Showing posts with label cerpen. Show all posts
Showing posts with label cerpen. Show all posts

Wednesday, 2 February 2011

Senyuman 'Emak'

"Tan, tan, maaf ema bangunin tante lagi tidur, lagi sakit apa tan? ko pagi pagi tidur?"

Sayup sayup terdengar suara emak pembantu rumah tetangga  di samping tempat tidurku beberapa waktu lalu, mengembalikan nyawaku yang lagi melayang layang beterbangan kesana kemari di alam mimpi, kembali ke jasadku yang tengah terbaring pulas.

Sambil mengucek mata yang baru terbuka setengah, aku menjawab:

"ah engga ma' semalam azka sakit muntah muntah, semalaman ga bisa tidur,  sekarang ngantuk banget jadi tidur dulu lah bentar sebelom beres2 rumah, ada apa ma, tumben?" tanyaku menelisik.

Maaf ya tan sekali lagi maaf ema ada perlu makanya bangunin tante, sambil membuka kancing atas bajunya lalu merogohkan tangan ke arah dadanya. dahiku mengernyit semakin penasaran akan kelanjutan ucapannya sambil menebak nebak kemungkinan yang akan terjadi. Tangannya terus merogoh seolah mencari sesuatu, ya sesuatu yang dia simpan disana, ditempat yang menurutnya paling aman khas nenek nenek kampung seusianya. 

Sejurus kemudian, terlihat kilauan dari dua buah benda berharga di telapak tangannya, di dalam sebuah plastik kecil terbungkus kain perca berwarna hitam. membuatku semakin penasaran akan maksud yang ditujunya.

"Gini tan, ema mau minta tolong, ini ema ada cincin sama gelang emas, simpenan ema segini gininya dari jaman muda dulu, mau dijual sayang takut kaga kebeli lagi, tapi ema ada perlu, ema mau pinjem uang tante, biar tante pegang dulu ini terserah tante mau pegang yang cincin apa yang gelang". 

Hiks, gaya bahasa khas sekali, khas nenek nenek keturunan asli daerah cileungsi yang berpadu antara betawi dan sunda. Intonasinya lembut, juga lemah seolah berharap sekali keinginannya bisa terwujud.

Hatiku semakin bertanya tanya, bak sedang menonton kisah cinta dramatis, menanti adegan selanjutnya apakah happy ending atau sad ending. tak sabar menanti ujung harapan yang diucapkannya terlalu bertele tele, wajarlah ia pasti tidak tahu kalau aku adalah orang yang sukanya strict to the point dan pastinya dia juga ingin aku mengerti dulu alasan atas apa yang ia lakukan. Ia sudah biasa meminjam uang kepadaku, malah hampir setiap bulan setiap beberapa hari sebelum gajiannya dari upah menjadi pembantu rumah tangga keluar, tapi kenapa tumben sekali kali ini pinjamnya segala pake bawa bawa perhiasan segala, fikirku.

"Ini tante pegang aja dulu, soalnya ema kan sekarang mah minjemnya banyak, (huft, jantungku berdegup ketika ia sampai pada kata ini) biasanya kan 20 rebu apa 50 rebu, sekarang mah banyak tan makanya ema bawa ini, nanti ema ambil lagi kalo udah bisa bayar.. sodara ema mau hajatan tapi ga punya duit, dia minta ema nolongin dia beliin gula, nanti diganti kalo udah hajatan. ema kesian pengen banget bantuin dia tapi ga punya duit makanya ema minjem dulu ke tante". 

Waduh, batinku perih, kenapa orang orang membutuhkan bantuanku di waktu bersamaan? seketika aku jadi teringat uangku yang sedang dipinjam beberapa orang, belum kembali. uang cash di tangan juga semakin menipis, belom lagi beberapa kebutuhan hidup sudah habis belum dibeli. mana si ema bilang butuhnya banyak lagi, segala pake jaminan begitu bisa jadi 500 ribu ato sejuta ato lebih nih kayaknya, taksirku sekenanya. 

Aku paling tak tega jika berhadapan dengan orang seperti ini, nenek nenek, pembantu, orang susah lagi. Rasanya gak sanggup melihatnya kecewa selepas keluar dari rumah ini tanpa mendapatkan sesuatu yang ia harapkan. Tapi bagaimana ya caranya menyampaikan ketidakmampuanku ini. Aduh... tiba tiba saja mulutku jadi sulit berucap bak seorang gagu yang ingin sekali menyampaikan sesuatu tapi tidak bisa. emaaaaa maafkan akuu.... ,

"ema emang butuhnya berapa?"
 
Mengumpulkan keberanian dan rasa tega dalam jiwa, mencoba bertanya sambil mengulur waktu untuk memberi kesempatan pada otak mencari dan merangkai kata kata yang pas untuk disampaikan. Tiba tiba saja aku jadi seolah berada pada posisi spongesbob kartun kesayangan anaku pada episode mengobrak abrik isi lemari arsip di otaknya mencari siapa namanya. Otaku sibuk sekali mencari cari tapi tidak ketemu! 

Tapi.... sedetik kemudian tiba tiba semua kerja otak itu terhenti bak sebuah permainan gamehouse yang sedang di pause. saat terdengar jawaban dari si ema:

"Banyak neng, seratus ribu...!"

Semua karyawan di dalam kantor otakku yang tadi ramai, sibuk bekerja tiba tiba saja menjadi sepi, lemah, terjatuh dari berdirinya masih memegang berkas yang sedang dicarinya. Matanya semua terbelalak, mulutnya ternganga tanpa sadar, lalu menutupnya sambil menggelengkan kepala masing masing.

"Simpan saja ma gelang dan cincinnya, ditaro disaya malah nanti ilang". 

Serayaku sambil menyodorkan selembar uang berwarna kemerahan yang ia harap. 

Ema tersenyum simpul, bahagia sekali, senyum yang manis meski pipi lesungnya sudah keriput dimakan usia dan meski giginya ompong tinggal separuh ...   Disusul rasa terima kasihnya yang tak henti henti terucap...

Aku juga tersenyum, senyum kelegaan dan bahagia karena dapat menolongnya.

***

Kadang kita menyepelekan sejumlah uang yang kita miliki, tapi di luar sana, banyak sekali orang menganggap itu saangat berharga dan sulit sekali untuk mendapatkannya. Mari kita saling berbagi dan saling membantu agar kesenjangan  tidak terjadi.


READ MORE - Senyuman 'Emak'

Thursday, 27 January 2011

sahabat yang hilang

Dulu kita sahabat
Teman begitu hangat
Mengalahkan sinar mentari

Dulu kita sahabat
Berteman bagai ulat
Berharap jadi kupu-kupu

Kini kita berjalan berjauh-jauhan
Kau jauhi diriku karena sesuatu dst...........

Yah.. lagu itu memang cocok sekali dipakai sebagai soundrack dalam balada kisah persahabatanku yang lenyap dimakan waktu.

Aku bertemu dengannya sewaktu SMA, Allah telah mentakdirkan kami duduk sebangku di kelas 1.2, di meja paling depan deret bangku kedua dari kiri, tepat di depan bangku guru yang paling tidak diminati kawan kawan lainnya.

Berbeda denganku, ia adalah lulusan sebuah pondok pesantren (ketika SMP), lalu melanjutkan ke SMA (tepatnya MAN) tempat kami bertemu, sedangkan aku justru masuk sekolah itu untuk dapat merasakan rasanya menjadi seorang santri, aku ingin belajar menjadi pribadi yang mandiri tanpa orang tua dan tentunya ingin menimba ilmu agama untuk bekal hidupku kelak.(ia tidak masuk pesantrennya hanya MAN nya saja karena rumahnya dekat sekolah)

Aku dan dia, sama sama berasal dari keluarga tidak mampu, itulah awal yang membuat persahabatan kami semakin erat, kerasnya kehidupan, sulitnya perjuangan dan berbagai problematika hidup yang sama sama kami rasakan membuat kami dapat memahami satu sama lain.

ia anak yang pintar, itu juga yang membuatku senang berada di sisinya. semangat meraih prestasi yang dimilikinya setiap hari memompaku untuk dapat menyainginya. di kelas itu aku dan dia selalu bergantian berada di urutan lima teratas. kami memang bersaing, tapi kami juga bersahabat, kami saling membantu dan mendukung. berlomba meraih peringkat yang lebih tinggi tapi tidak pernah iri ketika salah satu diantara kami lebih unggul. terbukti di kelas satu, aku dua kali mendapat peringkat ke 2, dan dia di bawah aku. tapi ia tidak pernah memusuhiku atau berhenti menjadi sahabatku

Fancy, bukan nama sebenarnya, tapi ia selalu memakai nama itu disetiap hasil karyanya sebagai pengganti namanya, meski aku jg tak pernah tau alasannya.
adalah seorang remaja putri dengan postur tubuh yang mungil, kulitnya putih, matanya tajam dan bulu matanya hitam lentik. ia bersahaja, periang dan memiliki semangat tinggi dalam melakukan segala hal. ia mengajariku banyak hal tentang 'bagaimana hidup di pesantren' dan membagi kepadaku segala suka dan duka kisah hidupnya. aku mengenalnya begitu dalam, tentang dirinya, juga keluarganya. begitu juga ia terhadapku. aku begitu menyayanginya, membanggakannya dan mencintainya. hidupku dipenuhi dengan banyak sekali prinsip prinsip yang ditularkannya. aku begitu terobsesi olehnya, kemana saja selalu bersamanya seolah olah hanya dia lah teman yang dapat memahamiku.

ia senang menggambar, setiap hari ia selalu mencoret2 bukunya dengan lukisan lukisan hasil karyanya, dan itu tertular padaku, aku mulai mengikutinya, mencoba dan akhirnya bisa. 
kami sering menggambar dan menulis bersama di sela sela jam kosong. Gambar2, vignet dan hasil tulisan karya kami sering sekali menghiasi mading sekolah. aku masih ingat waktu itu ia menulis sebuah kaligrafi cantik di mading berisi pepatah tentang 'cintailah orang yang kau cintai sederhana saja karena boleh jadi ia akan menjadi orang yang kau benci di kemudian hari' . aku amat menyukai karya itu, tapi aku tidak setuju dengan pepatahnya, karena aku tidak bisa mencintainya dengan sederhana karena aku amat mengaguminya. beberapa orang menyayangkan persahabatanku dengannya tapi aku mengacuhkan, aku selalu membelanya karena aku amat mengenalinya, aku dan dia selalu saling menyemangati setiap waktu.

hiks... aku masih ingat, ia mengajariku membuat buku diary sendiri, (karena kami tak mampu membeli). sisa sisa kertas yang masih kosong, dari buku tulis yang sudah tidak terpakai dikumpulkan lalu dijilid ke tukang fotocopy, lalu jilidnya disampul dengan sampul dari lembaran majalah bekas yang ada gambarnya. (karikatur cerpen).  aku dan dia punya buku diari yang sama sama terbuat dari buku bekas(sampai saat ini masih ada). tulisannya banyak sekali terdapat dalam buku ku, begitu juga tulisanku. disana kami menuliskan kisah tentang hidup kita, menggambar karya karya kita yang mencerminkan diri kita, dan menulis lirik lirik lagu yang kami sukai. kami selalu saling belajar, ia banyak sekali mengajariku lagu lagu barat yang sedang hits, salah satunya lagu 'word' yang dibawakan oleh boyzone. ia mengajariku bagaimana menyanyikannya karena di pesantren aku tidak diizinkan untuk menonton televisi.

hmm, hari hari yang indah itu ternyata harus berakhir. aku tidak lagi dapat bersamanya selalu ,karena di kelas dua aku ditempatkan di kelas 2.1 sedangkan dia di kelas 2.4.
Aku dan dia sama sama merasa begitu kehilangan. meski kami masih bisa bertemu di jam istirahat.. tapi sayang sekali karena waktu nya begitu terbatas. di kelas itu .. aku berteman dengan banyak orang. tapi aku tidak bisa menemukan seseorang yang bisa sehati seperti ia. 
***
suatu hari aku dipanggil kepala sekolah ke ruangannya, guru kelasku bilang, 'kamu fikir fikir saja apa kesalahanmu kenapa tiba tiba dipanggil beliau". aku melangkah dengan goyahnya, berharap prasangka ku salah. karena kesalahan satu satunya yang kumiliki saat itu adalah karena sudah 3 bulan belum bayaran SPP dan pelunasan biaya DSP, Huft, aku takut sekali jika panggilan itu berarti peringatan atau keputusan DO. aku pasrah, mengetuk pintu ruangannya merelakan apapun yang akan terjadi. dan aku terkejut karena ternyata aku dipanggil karena ada informasi bahwa aku lolos diterima sebagai penerima beasiswa orbit icmi, yayasan ibu aiun habibie dan ia memintaku untuk datang ke kantor orbit di Jakarta beberapa hari kemudian. ya betapa bahagianya menderngar berita itu, padahal aku sudah hampir tidak berharap sejak beberapa bulan lalu aku sudah mengirimkan formulir pengajuan itu berikut fotocopy raport, tapi tidak ada jawaban dan kini jawaban itu datang tepat disaat aku membutuhkannya. tapi dibalik kebahagiaan itu aku juga sedih, karena fancy sahabatku yang senasib denganku tidak mendapatkannya juga, andai saja dia juga lolos kebahagiaan ini akan lebih sempurna. tapi ia tidak marah ia turut bersyukur atas ini dan pada harinya, ia bahkan rela bolos sekolah untuk menmaniku ke jakarta untuk penetapan beasiswa itu. terimakasih sobat, kau selalu ada disaat aku membutuhkan.
***

suatu hari, Abi Halim, wali kelasnya memanggilku, ia berharap agar aku dapat menemui fancy di rumahnya, untuk mendengarkan kisahnya, memberi masukan dan merayunya agar mau masuk sekolah lagi. ya ternyata kurang lebih sudah sebulan ia tidak masuk kelas. aku fikir karena kesibukan kita masing masing jadi jarang ketemu, ternyata ia tidak masuk tanpa meninggalkan jejak kepadaku. 

aku datang ke rumahnya tepat di saat ia membutuhkan seseorang untuk mendengar. ia sedang frustasi karena di tengah kondisi sulit hidupnya itu, ternyata ada seorang wanita lain yang mengaku sebagai istri kedua ayahnya. betapa tidak, ia rela hidup bersusah payah selama ini, berusaha memahami kondisi orang tua dengan tidak neko neko, mensyukuri apapun yang ia miliki dan tidak dimiliki karena ia sadar betul bahwa ia hanya anak dari seorang tukang ojek. dan ternyata tukang ojek itu memiliki orang lain untuk dibiayai juga. ia marah, dan melampiaskan kemarahannya itu dengan tidak mau sekolah. ia depresi berat kala itu, ia sudah membuang semua buku buku pelajarannya dan peralatan sekolah. tapi aku membujuknya, memberinya penjelasan dan mengingatkan ia agar ia tidak lupa dengan semangat2 hidupnya yang telah ia tularkan padaku. dan alhamdulillah smua itu berhasil, esoknya ia hadir di sekolah dan gurunya berterima kasih padaku.
***
hobi kami sama, minat kami sama, kecenderungan kami juga sama, dan persamaan itulah yang membuat kami bertemu lagi di kelas 3, karena kami sama sama mengambil jurusan  'bahasa', meski berkali kali guru guru kami mengarahkan agar kami masuk ipa, tapi kami menolak, kami tidak akan berkembang disana karena minat kami adalah di kelas bahasa. sekali lagi, kami duduk sebangku dan masih di posisi yang sama yaitu tepat di hadapan bangku guru, namun bedanya kali ini lokasinya di ujung paling kanan dekat jendela.
aku bahagia sekali masuk kelas itu, selain karena sesuai keinginanku, tapi juga karena ada dia. prestasiku juga kembali meningkat. setelah di kelas dua aku hanya masuk 10 besar, mungkin selain karena kehilangan penyemangatku, juga karena di kelas 2.1 banyak sekali saingannya karena kelas itu merupakan kelas khusus perkumpulan anak anak berprestasi dari kelas sebelumnya. di kelas ini kembali aku dan dia bersaing memperoleh peringkat 3 besar dan kami berhasil.

tiba saat nya masa masa sma harus kami tinggalkan. kami lulus dan sepakat untuk melanjutkan pendidikan ke sebuah universitas islam negeri di jakarta. sebetulnya aku dapat pmdk Universitas Negeri Jakarta waktu itu, tapi aku tidak mengambilnya karena kesepakatan kami tersebut.

hari itu aku menjemput ia ke rumahnya untuk berangkat ke ciputat mengikuti ujian test masuk kuliah. ia menyambutku bukan dengan senyuman tapi dengan tetesan air mata. ia bilang :

'lo pergi sendiri aja ti (nama panggilanku khusus hanya dia yg menggunakan) gue ga jadi'. 

hati ku hampir saja hancur, mengapa tiba tiba saja ia urungkan sesuatu yang sudah kita rencanakan bersama. dia bilang :
"gue gakan kuliah ti, nyokap bokap ga punya uang tuk biaya kuliah, bahkan untuk ongkos berangkat test masuk universitas hari ini aja mereka ga punya uang'

tidak sobat, kita tidak boleh putus asa di titik ini, kita belum berjuang. kita harus tetap berusaha mencari jalan apapun untuk menggapai impian kita. aku terus terus berusaha meyakinkannya bahwa setiap ada kemauan pasti ada jalan seperti pepatah yang sudah kita hafal betul.

aku masih punya sedikit tabungan dari sisa beasiswaku. aku mendapatkan rp. 60 ribu rupiah setiap bulan dan biaya spp cuma 17 ribu rupiah saat itu, sisanya kugunakan untuk membeli buku pelajaran dan biaya akomodasi selama tinggal di pesantren. tapi masih ada sedikit, dan yang sedikit itu sudah kupakai untuk bayar biaya formulir kuliah untuk aku dan dia karena ortu kami telah pasrah, @80 ribu kalau tidak salah. dan sisa terakhirnya aku ambil kuberikan padanya agar ia bisa berangkat hari ini untuk ikut test. kita mengambil jurusan sastra inggris saat itu.

8 agustus tahun 2000. hari ini kami berangkat ke kampus melihat hasil test kami dengan langkah separuh jiwa.
karena aku dan dia ternyata tetap mendapat keputusan yang sama dari orang tua. yaitu tidak kuliah.

ayahku bilang, tahun ini aku harus istirahat sekolah dulu, ayahku yang hanya seorang guru madrasah tsanawiyah swasta dengan anak 8 itu harus fokus membiayai kakaku yang sedang kuliah di Al Azhar Mesir dan adik adiku yang masih pada sekolah, ayahku bilang tahun depan insyaAllah bisa kuliah, karena ayah akan menabung dulu dr sekarang untuk biaya tahun depan. dan orang tuanya jg mengatakan padanya bahwa mereka tak sanggup membiayai kuliah, mau biaya dari mana wong untuk makan sehari hari aja sulit.

sepanjang jalan kami berandai andai, semoga keajaiban terjadi, agar keinginan kami ini bisa tercapai. kami masih tetap berharap bahwa kami bisa meski kondisi orang tua tidak ada.

sesampainya disana, kami berdua sama sama menemukan nama kami  terpampang di papan pengumuman kelulusan jurusan sastra inggris. 

diantara hiruk pikuk orang orang yang bersorak sorai, bergembira dan bersyukur karena mereka lulus. kami berdua merintih dalam hati, ingin rasanya dapat berteriak sejadi jadinya memaki nasib yang tertulis pada garis tangan kami. pengumuman itu sedikitpun tidak membuat kami bahagia. tapi justru menambah guratan kesedihan yang mendalam di jiwa. mengapa banyak sekali orang yang mampu dalam hal biaya tapi tidak lulus sedangkan kami berdua lulus tapi tidak memiliki biaya.. ??? hidup ini memang sulit kawan..

sebelum pulang kami mampir ke kosan tempat kaka kelas kami yang kuliah disana, menceritakan apa yang terjadi pada kami hari itu. mereka semua menyayangkan peristiwa ini, karena mereka juga tau bagaimana prestasi kami di sekolah. mereka memberi solusi agar kami mendapatkan uang untuk bayar semester pertama yang harus dilunasi di awal, bagaimanapun caranya memohon kepada orang tua kami. untuk mendapatkan uang itu untuk tempat tinggal mereka mengikhlaskan kosan mereka ditempati kami gratis, biar mereka yang bayar. untuk kebutuhan makan sehari hari, mereka akan memberikan kami pekerjaan menjadi guru les privat di lembaga tempat mereka bekerja. dan untuk semester2 berikutnya mereka akan membantu mencarikan beasiswa dr channel2 yang mereka ketahui, oh ya aku jg bisa mengajukan beasiswa ke orbit lagi jika  sudah ada nilai hasil ujian semester. bagai secercah sinar dalam kegelapan, solusi itu membuat kami bangkit bak bangkitnya bunga yang layu disiram air. kami kembali membangun mimpi dan harapan. setidaknya masih ada harapan yang bisa kita perjuangkan.

namun hidup itu tidak mudah, Allah selalu mengajarkan kami untuk berjuang keras dalam hidup ini. bahkan untuk sekedar uang 400 ribu perak, saat itu orang tua kami tidak mampu memberikannya, bak smua mata buta dan setiap telinga orang tuli saat itu, hingga tidak ada satu orangpun berempati mau membantu kesulitan kami dan mendukung impian kami yang menggebu gebu. kami telah mencoba menceritakannya kepada saudara dan kerabat, berharap ada yg bisa membantu, tapi tidak satupun. semua orang yang kita temui berfikiran sama agar kami menunggu tahun depan untuk kuliah. kecuali orang orang yg sama sama tidak punya uang yang mendukung niat kami tersebut tapi apa daya ia tidak bisa membantu. berakhirlah perjuangan itu sampai disini dengan kesimpulan; kami tidak bisa kuliah disana tahun ini.

semangat belajar kami belum patah, keinginan untuk belajar masih menggelora di jiwa, kami tidak bisa menjadi pengangguran tanpa kegiatan. hingga seorang family memberi informasi tentang sekolah bahasa arab gratis di tanah abang jakarta.bukan tempat kuliah lebih tepatnya kursus. aku mengajaknya ikut tes, kami diterima dan mulailah kami sekolah disana tiga kali seminggu, kami berangkat dengan kereta krl dari sini (bogor) bertiga dengan sahabat smp ku. sering sekali kami tidak mampu membeli tiket kereta, dan menggunakan tiket hari sebelumnya ketika petugas meminta untuk menunjukan tiket. hal yang tidak patut untuk ditiru tapi merupakan usaha satu satunya untuk bisa tetap belajar. tapi sayang beberapa bulan berlalu, fancy lagi lagi diterpa masalah ongkos, orang tuanya tak mampu memberi ongkos lagi untuk berangkat kesana lalu ia berhenti. begitu juga sahabat ku yang satu lagi. aku tinggal sendirian..tapi tetap semangat ! atas nama kewajiban menuntut ilmu, apapun yang terjadi aku tetap harus berjuang. 
meski sayang, perjuangan ini sekali lagi harus tumbang oleh perintah orang tua untuk berhenti karena khawatir membiarkan anak perempuannya berjalan sendiri bolak balik bogor jakarta dengan krl yang penuh dengan orang orang  jahat. belum lagi saat itu sedang ramai ramainya kerusuhan menjatuhkan pemerintahan, penjarahan dan perusakan di kota jakarta begitu ramai diekspos di tivi. aku berhenti dengan tangis tersedu lalu menyendiri dalam ruang kamarku untuk meratapinya.

fancy, sejak saat itu aku tak sering  lagi berjumpa denganmu, aku mengisi waktuku dengan menjadi seorang guru TPA di sore hari dan di pagi hari bekerja sbg petugas admin di yayasan mental aritmatika dekat rumahku. lumayan dengan gaji tak seberapa, tapi setidaknya aku bisa tetap belajar, meski hanya belajar komputer otodidak dari buku  panduan yang ada disana.

setahun berlalu, tak perlu menagih janji aku tahu persis kondisi keuangan orang tuanku semakin menyempit. harapan untuk kuliah tahun ini pun sirna. sebagai seorang remaja yg masih labil saat itu yang kumampu hanya pasrah meratapi nasib dan tak tahu apa yang harus dilakukan lagi. rasanya segala upaya telah dilakukan namun takdir berkata lain. 

menemani takdir hidupku yang malang, aku menjalani sisa sia reruntuhan jiwaku ditemani seonggok radio butut, darinya aku belajar banyak hal dan mendengarkan alunan musik yang mampu meredakan kepedihan. suatu hari radio itu menyiarkan berita tentang kuliah gratis yang dibiayai oleh sebuah perusahaan swasta ternama. aku bangkit, mengumpulkan serpihan serpihan semangat yang telah hancur terbakar teriknya takdir. tak pernah melupakan sahabat senasibku, aku beranjak ke rumahnya untuk mengajak, namun ternyata takdirnya lebih indah, ia telah masuk kuliah di universitas islam negeri di bandung. dan kini ia disana. 
sedikit kecewa mengapa ia tak mengabari atau mengajaku, tapi kutepis karena meski ia mengajaku orangtua ku takan mampu membiayainya.

aku mengikuti prosedur tes masuk kuliah gratis yang saat itu ada sekitar 12 tes terdiri dari psikotes, matematika dasar, inggris dasar dan pengetahun umum. dan aku diterima. mulailah aku mengais ilmu disana.
aku semakin jarang bertemu dengannya mengingat kesibukan kita masing masing yang terpisah jarak dan waktu.

kami menjalani kehidupan masing masing yang berbeda, sudah banyak hal tentangnya yang terlewat olehku. 
lulus kuliah aku diterima bekerja di perusahaan yang mensponsori tempat kuliah dan aku menjalani aktifitas ini dengan sebaik baiknya. 

setelah sekian lama tak ada kabarnya, suatu hari ponsel butut pertamaku berdering, fancy di ujung line telpon, aku bahagia sekali setelah sekian lama ia tak menghubungiku, aku berharap ia merindukanku.. ternyata salah, ia bilang ia sedang dalam masalah dan membutuhkanku untuk meminjamkan uang sebesar 800 ribu. uang yang cukup besar untuku saat itu, mengingat gajiku saja cuma sebesar 500 ribu. aku belum menjadi sekretaris saat itu, hanya seorang asisten dari sekretaris. dan gaji itu baru cukup untuk ongkos dan keperluan primer hidupku. aku tak mampu membantunya kala itu. aku sedih... 

entah marah karena aku tak bantu atau gimana, sejak saat itu ia semakin tak pernah menghubungiku. ia tak punya kegiatan seharusnya lebih punya banyak waktu untuk mengunjungiku, tapi itu tidak lagi pernah dilakukannya. 

suatu hari aku menyempatkan diri ke rumahnya dan menginap untuk mencairkan kembali kefakuman komunikasi diantara kita. saat itu aku kaget ketika menemuinya tidak lagi berjilbab. ia membiarkan rambutnya terurai bebas, baju pendek dan bercelana pendek di luar rumah.  hmm apa yang terjadi?? aku tertinggal banyak info tentang kisahnya. ia menjelaskanku apa yang terjadi pada hidupnya, kekerasan, kepedihan dan gelombang gelombang dahsyat hidupnya belum juga berakhir. dan semua itu membuatnya depresi, sepertinya kecewa pada tuhan yang menuliskan garis hidup itu di kedua telapak tangannya. ia bergaul dengan bebasnya, dengan orang orang yg tak layak digauli. ia menceritakan kehancuran dirinya, ia terlalu jauh melangkah, aku tak bisa menceritakan detailnya disini.

hatiku hancur, aku menyesal sejadi jadinya, mengapa aku hanya menunggu kehadirannya selalu, tidak memaksakan diri untuk mendatanginya mencari tahu apa yang terjadi pada dirinya. awalnya aku berfikir ia melupakanku karena telah mendapatkan impiannya, impian kita sebetulnya. tapi ternyata aku baru tahu kalau sekarang ia tak lagi kuliah, kuliah itu sudah lama ia tinggalkan karena faktor biaya, ia tak tau lagi kemana harus mengupayakannya..tapi ternyata aku salah, aku menyalahkan diriku sendiri mengapa tak ada saat ia membutuhkanku, sehingga aku tak mampu memberinya semangat untuk tetap istiqomah. tapi kini sudah terlambat, yang kumampu hanya sedikit memberikan masukan, berharap dan berdoa agar ia kembali... aku ingin sekali selalu berada di sisinya saat ini, agar bisa memantau perkembangan hidupnya tapi aku tidak bisa... aku harus menjalani aktifitasku demi banyak hal. kini ia telah dewasa aku berharap ia dapat menyelesaikan sendiri masalah hidupnya.

aku pulang, dan kembali ia tak memberiku kabar, padahal aku sudah memintanya untuk selalu keep in touch.  

berlanjut tak pernah lagi ada kabar, hingga saat aku memutuskan untuk menikah, aku berharap sekali ia hadir menyaksikan prosesi sakral pernikahanku. aku sendiri mengantarkan undangan itu ke rumahnya, memastikan undangan itu sampai di tangannya, tapi ia tidak di rumah, aku menitipkannya pada ibunya. aku menitipkan uang untuk ongkos nanti, aku tak mau ia tidak bisa hadir karena alasan ongkos.

tapi di hari bahagiaku itu, harapanku punah, sosoknya tak sedikitpun aku temukan, padahal dibanding beribu tamu yang hadir, dia lah orang yang paling aku nantikan. aku ingin ia menyaksikan kebahagiaanku ini.. tapi ia tak ada... 

aku sedikit kecewa, mengapa ia tak mau mengusahakan apapun agar bisa hadir di hari pernikahan sahabatnya. tapi aku berusaha memahami bahwa ia pasti punya alasan sendiri untuk melakukan itu.
aku masih menunggunya, menunggu kabarnya, dan menunggu alasan ketidak hadirannya itu. tapi tak kunjung tiba... 
ia tak pernah lagi menghubungiku, beberapa kali aku ke rumahnya selalu tak ada. pesanku pada keluarganya untuk menghubungiki seolah diabaikannya, ia tak pernah mencariku.

waktu berlalu, kami hidup dengan kehidupan kita masing masing, banyak hal tentangku yang telah ia lewatkan, begitu juga aku.... 
aku masih selalu menunggunya, menunggu seorang sahabat merindukan sahabatnya, tahun tahun berganti tanpa menunggu, setelah sekiaaannnnnnnnnnnnnnn lamaaaaa, tiba2 telpon di meja kerjaku berdering, dari loby operator, katanya seorang wanita bernama fancy dan seorang pria menungguku disana.

aku datang dengan riang, berharap mendapat pelukan rindu dan kejutan sayang dari orang yang selama ini aku harap. benar ia yang menungguku di lobi itu bersama kekasihnya. tapi tidak datang bersama sekarung rindu yang kunanti. ia datang, mengingatku hanya karena ia membutuhkan bantuanku meminjam uang sebesar 500 ribu rupiah. 
aku sedih, mengapa ia hanya datang, hanya mengingatku ketika membutuhkanku. kenapa ia tak pernah lagi ada disaat aku membutuhkannya untuk sekedar berbagi. berbagi kisah tentang hidupku. 
aku kehilangannya... kehilangan ia yang telah sekian lama menjadi bagian penting dari hidupku. ia telah berubah! berubah menjadi sesosok makhluk lain yang tidak kukenali.. 
aku hanya membawa uang 200 ribu di saku bajuku saat itu dan itu kuberikan padanya... 
aku berharap ia berubah dan ada komunikasi lain setelah ini selain mau meminjam uang.
tapi itu tidak pernah terjadi.... 
entah ia marah karena aku tidak dapat mengusahakan pinjaman uang untuknya atau kenapa... 
tapi sejak saat itu ia tak pernah lagi menghubungiku, 
padahal, aku menemukan account fesbuknya, menambahkannya ke daftar teman, ia meng'aprove' permintaan pertemananku, tapi tetap tanpa sepatah kata pun... 

setelah semua yang telah ia perlakukan padaku, aku tak bisa memulai duluan mengirimkan sepatah kata lewat inbox , wall atau pun komentar pada statusnya. aku berharap sekali saja ia duluan menuliskan sekata saja komentar pada status2ku yang pasti ia ketahui. dan aku akan melanjutkan kembali persahabatan ini.. 
tapi ia tidak pernah melakukannya... ia telah melupakanku....menghapus namaku dari kisah hidupnya... 

maaf kan aku...  tapi aku berharap kau tahu bahwa hingga detik ini aku masih bertanya tanya mengapa kau memperlakukan aku seperti itu..  terima kasih atas persahabatan indah yang pernah terjalin. aku tetap berdoa smoga setelah menjauh dariku hidupmu kini bahagia

terakhir,.............
sebuah lagudari abang iwan fals ini kupersembahkan untukmu:

belum ada judul
pernah kita sama sama susah
Terperangkap didingin malam
Terjerumus dalam lubang jalanan
Digilas kaki sang waktu yang sombong
Terjerat mimpi yang indah lelap

Pernah kita sama-sama rasakan
Panasnya mentari hanguskan hati
Sampai saat kita nyaris tak percaya
Bahwa roda nasib memang berputar
Sahabat masing ingatkah kau

Reff:
Sementara hari terus berganti
Engkau pergi dengan dendam membara di hati

Cukup lama aku jalan sendiri
Tanpa teman yang sanggup mengerti
Hingga saat kita jumpa hari ini
Tajamnya matamu tikam jiwaku
Kau tampar bangkitkan aku sobat

Sementara hari terus berganti
Engkau pergi dengan dendam membara di hati
READ MORE - sahabat yang hilang

Sunday, 23 January 2011

Payung Merah Hati, Saksi Bisu Kebodohanku



Pagi itu langit muram..
Awan terlihat berkaca kaca, redup dan menghitam. Tiada lagi sinar cerah menerobos masuk ke kamarku ketika gorden jendela ku buka.

“Andai saja hari ini tidak ada ujian di kampus, pasti sudah kutarik selimut lagi melanjutkan nikmatnya tidur” (lirihku)

Aku segera bergegas ke kamar mandi, menjalani rutinitas pagi seperti biasanya, kembali ke kamar dan berkemas mempersiapkan buku buku dan peralatan yang harus ku bawa hari ini. Semua telah siap di dalam tas coklat kesayanganku.

“Maaa, ini payungnya ketinggalan, kayaknya sebentar lagi mau ujan lho”

suara ibuku setengah teriak, sambil menghampiriku yang tengah membuka pintu pagar beranjak keluar. Membawakanku sebuah payung lipat berwarna merah hati, warna favoritku. Hampir saja payung ini tertinggal, padahal setiap hari ia selalu setia bersamaku.

Akhir akhir ini cuaca memang tak menentu, hampir setiap hari hujan turun tak perduli pagi, siang ataupun malam.

Selang beberapa saat, sampailah aku di sebuah halte bus yang sudah sangat tak asing bagiku, hampir setiap hari aku berada disana, menunggu bus ke arah kampus yang hanya lewat setiap 20 menit sekali. Sebuah halte yang tak terurus, atapnya hilang entah dicuri tukang besi tua atau terbang ditiup angin. Tapi lumayanlah karena masih ada tempat duduk panjang untuk beristirahat sambil menunggu bus datang meski kondisinya sudah tak layak dan penuh coretan tangan tangan jahil.

Aku duduk disana sambil mengotak ngatik telepon genggam, meng’update’ status Fesbuk sekedar mengisi waktu sambil sesekali mengecek apakah bus telah datang.

Lima menit kemudian….
seorang pria kira kira usianya 40 tahunan datang dan duduk tepat di samping kiriku. Ups aku tak tahan mencium bau parfumnya yang terlalu menyengat, bagiku bukannya wangi tapi malah membuatku muak.

“Pagi mbak? Mau kemana?” Ia mulai menyapaku

“Ke depok, bapak mau kemana ” jawabku

“nunggu mikrolet 06A mbak, mau ke rumah sodara. kerja mbak?” Tambahnya

“enggak pak, mau ke kampus” jawabku

“oo, kuliah dimana?” 

dll dll

Bapak bapak itu terus terusan menghujaniku dengan berbagai pertanyaan dimulai dari pertenyaan tentang kuliah, rumah, jumlah keluarga, hingga tentang baju yang ku pakai…

Awal awal aku menghargai sikapnya yang ramah berusaha mencairkan suasana, tapi lama kelamaan aku mulai jengah, mulailah aku menaruh curiga mengapa ia begitu SKSD (sok kenal sok dekat) kepadaku… aku mulai risih berada di sisinya, sepertinya ia terlalu mau tau urusanku.

“Jangan jangan ia orang jahat yang berusaha menghipnotisku seperti yang kulihat diberita berita tivi akhir akhir ini atau bisa jadi ia pria hidung belang yang mencoba mendekatiku” lirihku dalam hati

Aku semakin cemas dan kaget ketika tiba tiba saja aku menyadari bahwa ia sedang menggenggam sebuah payung lipat merah hati. ups... !

‘wah jangan jangan dia benar benar orang jahat, buktinya ko bisa bisanya aku tidak sadar kalau payungku itu sudah berpindah tangan”

aku segera mengecek isi tasku, syukurlah dompet dan hp msh berada di tempatnya.

“maaf payungnya!” 
aku berusaha bersikap sopan ketika serentak tanganku mengambil kembali payung itu dari tangannya, masih berusaha bersikap manis padahal hatiku sudah lumayan jengkel. Ia hanya tersenyum sambil menyerahkan payung itu ke tanganku.

Hujan tiba tiba saja turun dengan derasnya….
Aku segera berdiri dan membuka payung di tanganku, melindungi diri, pakaian dan tasku agar tidak basah sambil berharap bus ku segera datang.

Tanpa sepatah katapun, pria itu sontak mengikuti berdiri tepat di sampingku mengambil bagian untuk dapat melindungi diri dari payung yang ku genggam…

Aku mulai gerah, kekesalanku bertambah lagi.

“Pria tua ini benar benar tidak tau sopan santun, untuk ukuran orang seusianya seharusnya ia tau persis bagaimana caranya meminta izin untuk ikut dalam payungku, tapi ia hanya tersenyum tanpa sepatah katapun” geramku dalam hati

Sebuah mikrolet no 06A lewat di depan kami, tapi si Bapak itu tidak menyetopnya. Mungkin ia lengah fikirku.

Beberapa saat kemudian,
mikrolet 06A yang lain berhenti menurunkan penumpang di halte tempat kami berdiri, tapi si Bapak tidak juga masuk ke dalamnya. aneh...

Aku berusaha mengingatkannya dengan menatap wajahnya, berharap ia segera naik, tapi ia hanya tersenyum kepadaku.

Kegeramanku mulai memuncak, kesabaranku hampir habis, dari tadi aku sudah berusaha bersikap manis tapi sepertinya kali ini tidak lagi dapat dipendam. sedikit demi sedikit payung sengaja ku geser ke arahku, kubiarkan air hujan jatuh di satu sisi pakaiannya. aku ingin tau reaksinya, jika ia marah aku akan balik tanya apakah ia telah meminta izin untuk berteduh di payungku. Namun ternyata ia tidak marah, lagi lagi hanya tersenyum kepadaku.

“sepertinya pria ini berusaha mencari kesempatan untuk berdekatan denganku, memanfaatkan suasana hujan dan pura pura berteduh di payungku. aku tidak akan membiarkannya! Dasar pria hidung belang! Kita lihat saja selanjutnya. Kalau sekali lagi mikrolet itu datang tapi dia tidak naik jg, aku akan beri dia pelajaran” ancamku masih dalam hati.

Aku menunggu nunggu saatnya mikrolet itu lewat. Mencari alasan terakhir untuk marah. Tapi ternyata....... yang datang adalah bus menuju depok yang telah lama ku tunggu.

Huh gagal deh memberi dia pelajaran, tapi tak apa lah setidaknya aku selamat karena bisa segera pergi meninggalkannya.

“Lega… Akhirnya aku bisa beranjak dari tempat ini. Rasakan kau akan basah kehujanan nanti jika payung ini kubawa” gumamku bahagia di dalam hati

Aku melambaikan tangan pada busku dengan riang. Bus pun berhenti tepat saat aku berada di pintunya yang mulai terbuka.

Saat kaki kananku melangkah ke dalam bus, sebuah suara mengejutkanku:

“kalau sudah tidak dipakai lagi, biar payungnya saya bawa pulang mbak, kebetulan mikrolet saya sudah ada tepat di belakang bus ini”

Aku sudah sangat siap dengan perkataan dan makian yang akan aku sampaikan kepadanya bertubi tubi, ketika aku tiba tiba terfikir untuk mengecek isi tas ku dulu sebelumnya.

Yah… hal yang paling tidak aku harapkan terjadi.
Aku sungguh merasa bodoh malu dan egois…!
Ternyata payung merah hatiku masih terlipat rapi di dalam tasku dan yang ku pegang ini adalah payung miliknya.......
bus pun melaju tanpa memberiku kesempatan untuk sekedar meminta maaf, dan aku tak pernah lagi bertemu bapak bapak yang ramah dan bijak itu.

Hikmah yang dapat dipetik dari kisah ini:
1.Paradigma kita terkadang salah, jadi jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan.
2.Bersikap negative thingking dapat membuat kita buta untuk dapat melihat dan menghargai ketulusan seseorang.

Artikel ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan Cermin Berhikmah di BlogCamp.
READ MORE - Payung Merah Hati, Saksi Bisu Kebodohanku

Thursday, 20 January 2011

sebuah "rasa" yang seharusnya "tak ada"





SEBUAH RASA

pagi itu, tepatnya menjelang siang mentari bersinar cerah sekali bak perawan yang sedang tertawa dg cerianya.., hangatnya menembus ke sela2 kulitku, sinarnya terangi hari menyusup di sela sela ranting dedaunan lalu sampai ke atas kepalaku....

pagi yg ramai...seolah olah setiap org bersegera bangun dan keluar rumah untuk menyambutnya..., ibu2 tetangga, bapa bapa dan anak anak tentunya... smua bertebaran keluar menyongsong hari yang ditunggu... , ya.. hari ini di komplex kami ada perayaan 17 belas agustusan... , sedikit berbeda dg perayaan tahun2 sebelumnya, entah mengapa kali ini setiap orang begitu antusias menyambutnya...

azka, anaku yg baru berumur 3 tahun pagi ini jg telah siap menyambutnya... , dg semangat ia ingin mengikuti salah satu lomba yang diadakan di RT kami yaitu lomba fashion show..., dengan semangat dia terlihat begitu siap menghadapi hari ini.., berpakaian rapi bak model sungguhan, kemeja biru muda, celana jeans, sepatu baru, tak lupa dasi dan topi kesayangannya yg berwarna senada...

acara memang belum dimulai.. tp ia sudah melenggak lenggok dg gayanya seolah sedang diatas panggung.

aku berjalan menuju keramaian di tengah lapangan itu, menemani azkaku yg sdh siap dg kostumnya. sayangnya ayah azka hr ini tidak dirumah jd tidak bisa ikut memeriahkan keramaian ini.

acara hampir di mulai... aku memegang erat tangan anaku untuk menyemangati, ketika tiba2 mataku terpaut pada sesosok makhluk....

ada sebuah getaran hebat bergejolak di dalam dadaku, sebuah rasa yg aneh, yang ingin sekali kutolak tp entah bagaimana caranya ia bisa hadir begitu saja dlm benakku...

aku begitu terpana ketika tidak sengaja sepasang bola mataku ini bertemu pandang secara tak sengaja dengan seorang pria...

seseorang yang beberapa saat kemudian aku ketahui ternyata tetanggaku sendiri... hanya beda beberapa rumah tp betapa bodohnya aku hingga aku baru saja menyadari keberadaannya dan baru saja melihatnya hari ini... disini...

ia tampak begitu elegan.... dengan celana coklat yg match dg jacket coklat yg ia kenakan, di dalamnya terlihat kemeja putih yg sepertinya branded begitu bersih dan rapi.. pas sekali sepertinya berada di tubuhnya yg kekar itu.. , usianya kira2 30 tahunan, rambutnya ikal tp agak lurus, tersisir rapi, tidak besar tp tidak kurus, ia berkulit putih dan tinggi... tanpa kusadari hatiku berdecak mengagumi sosoknya..padahal aku jg tau pasti ia jg seorang bapak, karena aku melihat sesosok makhluk kecil laki laki di genggaman tangannya yg sepertinya usianya tak jauh dg anaku...

ya Allahu rabbi, astagfirullahal adzim, aku beristigfar (masih dlm hati)...

Tuhan ampuni aku yang telah tak sengaja mengagumi sosok lain selain suamiku sendiri...

tak perduli dengan hiruk pikuk dan keramaian yang ada... , aku bertempur sendiri dengan jiwaku sendiri....

sebuah rasa bersalah menyelimuti, rasa berdosa mengapa bisa bisanya aku memiliki rasa ini.. rasa kagum pada org lain meski itu hanya terjadi dalam hati... tp rasa berdosa ini seolah2 aku telah melakukan perselingkuhan.

betapa tidak, aku yang selama ini menjunjung tinggi rasa kesetiaan, bisa2nya memiliki rasa kekaguman itu...

padahal aku begitu sadar, sejak aku menerima seorang irwan fadli fauzie sebagai suamiku, aku telah berjanji kepada diriku sendiri untuk tidak pernah "mengagumi" (dalam tanda kutip) pria lain selainnya, karena ia adalah sosok yang 'cukup' bagiku..... ia tidak memiliki kekurangan yang bisa mengurangi rasa cintaku padanya.. ia cukup memenuhi ruang2 kosong pada ketidaksempurnaanku untuk melengkapi hidupku... aku mencintainya dengan sepenuh hatiku...

tapi kenapa...?? aku mencoba mengubur dalam2, dan membuyarkan lamunanku namun rasa itu msh saja berkecamuk di dalam diriku hingga aku hampir saja tidak mendengar ketika panitia memanggil nama anakku untuk naik ke atas panggung memulai aksinya.

jantungku berdegup hebat, ketika tiba2 aku baru menyadari ternyata pria itu berada tepat di ujung garis horisontalku, memperhatikan anaknya yg berlomba bersama anaku sambil sesekali menatapku...

Sekali lagi Tuhan... .please lindungi aku. jangan biarkan aku melakukan kesalahan meski hanya dalam hati... yakinkan padaku bahwa semua ini tidak ada...

waktu terus berlalu, tiba2 seorang anak kecil yg digendong ibunya disampingku menumpahkan sekantung plastik es berwarna biru ke atas bajuku, tentunya tak sengaja, ia pun menangis karena minuman yg sedang dinikmatinya ternyata tumpah..

tp bajuku kuyup hampir separuhnya... ugh.. kesal tp tdk bisa marah pada anak kecil yg tak sengaja....

ingin segera pulang mengganti baju, tp anaku belum turun panggung, ia akan menangis di keramaian jk tak menemukanku ketika ia turun...

huft.... nikmati saja lah keadaan ini... mungkin ada hikmahnya ketika guyuran ini menyadarkan aku dr alam lamunan bodoh kembali kepada alam nyataku...

tp tiba2 saja, lagi2 aku terperangah ketika sepasang tangan menyodorkan sebuah jaket berwarna coklat yg td kulihat, kepadaku.... disusul sebuah ucapan 'silahkan pakai saja dulu biar tidak terlihat basah...'

huft... jantungku berhenti berdetak, tertegun tp tanganku meraih jaket itu tanpa mampu menolak....

Tuhan...sekali lagi.. kenapa aku tak mampu menolaknya... ???

aku mengenakan jaket itu..... sebuah tatapan tajam penuh perhatian tertuju padaku... , aku risih tp menikmatinya...tp istigfarku bertubi2 terlantun oleh sang hati.

hari telah berlalu, entah dr mana ia mendapatkan no ponselku, waktu itu pukul 9 pagi, lagi lagi pagi yang penuh dengan kehangatan sang surya, cerah berbinar2....

sebuah pesan pendek aku terima.. " bisakah kita bertemu di taman samping lapangan kemarin sejam lagi? skalian tolong bawakan jaket sy yg kemarin, ada suatu hal yang ingin sekali saya sampaikan. sy tunggu."

huft... aku baru saja selesai mandi waktu membaca sms itu., ternyata sudah msk ke ponselku sejak setengah jam yg lalu..

brarti waktunya tgl setengah jam lg... aku tak mampu membalas pesan itu... karena tak mampu mengatakan ya atau tidak..

huft.. aku berada di titik nol, tepat di tengah tengah antara ya dan tidak, sebuah posisi yang paling tidak aku sukai tp aku sendiri tak percaya mengapa aku saat ini berada di titik ini...

seperti biasanya, aku mengenakan pakaianku, sebuah baju hijau toska yg kupilih lengkap dg jilbab berwarna senada...

waktu tinggal 5 menit lg....

jantungku berdegup semakin kencang, jiwaku bergejolak dahsyat...

Tuhan... please.... aku tak percaya mengapa aku melangkah keluar rumah, menuju suatu tempat dimana seorang asing menungguku...

sekali lagi aku tak percaya, ini tak mungkin terjadi pada diriku, ini 180 derajat berlawanan dg prinsip hidup dan komitment komitmentku.. tp apa daya kaki ini telah melangkah...

melangkah untuk sebuah kesalahan, untuk sesuatu yang seharusnya tidak aku lakukan.., untuk sebuah rasa yang seharusnya aku tolak mentah mentah...

aku sangat merasa bersalah, kecewa pada diriku sendiri, bagaimana aku hrs mempertanggungjawabkan smua ini dihadapan Allah kelak, juga dihadapan suamiku,.... aku tak bisa membayangkan bagaimana perasaannya jika ia mengetahui ternyata aku.. istrinya berjanjian dg pria lain selainnya, dengan suami orang lagi.... ... ooh tidaaaaaaaaaaaaaaaak...

dalam langkah yg goyah, sekali lagi dalam hati aku berucap dengan lantangnya, meyakinkan lagi pd diriku sendiri , aku mencintai suamiku... dan takan pernah terganti.. he is the best I ever have....

hiks... aku menoleh ke kanan dan kekiri ketika tiba2 saja mataku terbuka, sekali lagi menoleh untuk meyakinkan diriku dimana aku berada...

sebuah jam bulat berwarna merah di dinding samping kananku menunjukkan waktu pukul 6 pagi...

ups.. ternyata aku masih disini, berbaring di samping kiri suami tercintaku dan disamping kanan anak kesayanganku...BUKAN di TAMAN itu...

terima kasih ya Allah.. kesalahan itu ternyata HANYA SEBUAH MIMPI TIDURKU yang tak bisa aku kendalikan.....

terimakasih aku segera terbangun sebelum bertemu dg nya... Huft... mimpi yang membuat aku merasa bersalah sendiri.....

terimakasih ya Allah masih melindungiku dr rasa itu... alhamdulillah wastagfirullahulAdzim...

selameet selameet....




"mohon maaf kepada pr pembaca yg telah trlanjur hanyut dlm alur ceritanya.. sekali ini ini cuma mimpi.. bukan kenyataan hee..e.e.e.e.e..e. :) " c u on the next story...
READ MORE - sebuah "rasa" yang seharusnya "tak ada"