Tuesday, 15 February 2011

KITALAH PERUSAK BUMI KITA SENDIRI!

 Negara tercinta kita Indonesia terkenal dengan keindahan alamnya. Negara yang sebagian besar daratannya merupakan hutan yang mengandung berbagai kekayaan alam yang telah diciptakan Tuhan dengan beragam manfaat luar biasa yang merupakan salah satu tongkat penguat keseimbangan alam.

Hutan adalah tempat hidup beraneka ragam jenis tumbuhan yang  sangat berguna bagi kehidupan manusia, diantaranya adalah sebagai penghasil oksigen yang dibutuhkan manusia untuk bernafas,  sebagai penyerap air yang akan mencegah kita dari kebanjiran, mencegah pemanasan global yang dapat menimbulkan berbagai bencana, dan mengikat tanah sehingga mencegah dari longsor. Selain itu hutan juga bisa menghasilkan berbagai jenis kayu, sayuran dan obat obatan yang bisa digunakan untuk kebutuhan manusia.

Hutan juga berfungsi sebagai tempat berkembang biaknya beraneka ragam fauna yang membuat Indonesia kaya akan berbagai jenis spesies binatang. Dan itu sangat membanggakan. Bahkan Indonesia masih memiliki salah satu hewan langka komodo yang hanya berada di Indonesia.

Namun sayangnya, menurut Buku Rekor Dunia Guinness Edisi Tahun 2008 Indonesia tercatat sebagai negara tercepat penghancur hutannya sendiri. Menurut data tersebut “Indonesia merusak seluas 51 kilometer hutan setiap harinya, atau seluas 300 lapangan bola setiap jam nya atau seluas taman monas setiap setengah jam”. Hampir tak percaya rasanya mengetahui hal tersebut, tapi inilah fakta yang terjadi di negeri ini, oleh ulah kita sendiri sobat! Hutan hutan tersebut dirusak dengan cara ditebang secara illegal, dibakar, dirubah menjadi kawasan perumahan dan lain lain. Sungguh disayangkan, bisa dibayangkan sepuluh tahun lagi, apa masih ada hutan yang tersisa di Indonesia? Masihkah keseimbangan alam dapat dinikmati oleh anak cucu kita kelak?
 Padahal, dengan semakin berkurangnya jumlah hutan, berarti Negara kita semakin rentan akan terjadinya bencana alam, terutama banjir, longsor, pemanasan global, gempa bumi dan lain lain. Wah, pantas saja kita tak henti hentinya mendengar berita tentang bencana banjir dan longsor di televisi. Tak heran lagi mengapa bisa begitu sering terjadi di berbagai daerah di Indonesia. Dan selama ini kita hanya bisa ternganga sedih menyaksikan penderitaan saudara kita tersebut tanpa melakukan tindakan apapun. Hanya bisa mengutuk pemerintah yang kita anggap tidak becus menangani masalah ini atau yang lebih parah mempertanyakan keadilan tuhan yang membiarkan bencana itu terjadi.

Padahal, kalau perusakan hutan kita tidak dicegah dari sekarang, dan dibiarkan jumlahnya tetap seperti itu, maka akan jauh lebih sering lagi kita mendengar berbagai bencana alam terjadi lagi, lagi dan lagi di negara kita. Berapa banyak lagi saudara kita yang akan menjadi korban? Berapa banyak kerugian lagi yang akan dialami oleh rakyat Indonesia? Bisa-bisa lima tahun lagi, berita banjir akan terjadi di seluruh bagian Negara ini tidak hanya di Jakarta atau daerah padat lainnya. Dan berita tentang longsor, gempa bumi dan korban korbannya akan kita dengar setiap jam di televisi.
         
Semoga dengan tulisan ini kita semua dapat terbangun dari lelapnya ketidak pedulian kita, tersadar bahwa kita! Yah kita yang membaca tulisan ini dan siapapun, bisa memperbaiki kondisi ini!. Demi kehidupan kita selanjutnya, kehidupan anak cucu kita dan keberlangsungan bumi ini.

Mari kita mulai dari lingkungan terkecil kita dengan menciptakan hutan kecil kecilan di halaman rumah kita sendiri, menyisakan sedikit saja lahan serapan air untuk mencegah banjir. Mari kita tanamkan dalam-dalam di benak kita rasa perduli untuk menjaga hutan kita dan menjaga keseimbangan alam ini. Mari kita semua bergotong royong, menjaga hutan kita dari diri kita sendiri, dari para perusak, pencuri, pembakar, penebang illegal, dan penjualan kayu secara tidak terkendali.

Mari kita lestarikan bumi ini dari kehancuran, bencana alam  dan ketidak nyamanan lainnya. Biarkan keanekaragaman flora dan fauna tetap menjadi cirikhas bumi Indonesia yang indah yang patut untuk kita banggakan. Semoga semua keindahan ini masih dapat kita wariskan untuk anak cucu kita kelak.

 Dari anak Indonesia untuk negeriku tercinta.



READ MORE - KITALAH PERUSAK BUMI KITA SENDIRI!

Friday, 11 February 2011

mobilku dipukuli di hadapan mayat

Ini jam 1.37 tengah malam (apa pagi yaa), 
saat aku mulai menuliskan huruf pertama postingan ini, saat dimana aku ga bisa tidur karena masih terngiang ngiang kejadian tadi sore di jalanan... dan semua kisahku hari ini, biarlah ku bagi disini selain agar lebih tenang dan bisa tidur, juga semoga ada yg bisa mengambil pelajaran darinya... 

Jam 2 siang tadi, 
akhirnya aku sampai juga di sini, rumah masa kecilku yang kini bukan miliku lagi, kembali menjadi milik orang tuaku setelah aku menikah. setelah 3 bulan  tidak singgah karena kami sakit sakitan padahal biasanya hampir tiap dua minggu, bahagia rasanya bisa menapak lantai ini lagi, terlebih melihat tawa anaku yang begitu bahagia sekali bertemu sanak famili yang sudah dirindukannya. juga bahagia karena bisa terlepas dr suara bising tetangga komplex yang sdh sebulan ribut dengan suaminya yang banget banget bikin ga nyaman (nanti aku ceritain di postingan terpisah).

Peluh dan penat sepanjang perjalanan saat menjadi supir untuk anak dan diri sendiri tadi tiba tiba saja tak terasa, padahal sepanjang jalan tadi tak habis aku berandai2. andai tidak perlu menyetir sendiri, duduk di belakang saja bercengkrama dg anaku terbebas dari kepanikan dan kehati hatian mengendara, membiarkan sang supir yang melakukannya. Andai ac mobil ga rusak, pake mobilnya yang mewah, keluaran terbaru dengan interior yang lengkap dan nyaman. hmm.. perjalanan ini bagai berangkat ke syurga kali ya... :), hush aku mengagetkan diri sendiri untuk menghentikan lamunan  konyol itu dan mengingatkan untuk tetap bersyukur, bersyukur memiliki kemampuan untuk menyetir sendiri padahal banyak orang belum bisa melakukannya, bersyukur meski mobil cuma minibus zebra yang acnya lagi rusak belum dibetulin karena uang untuk betulinnya lagi dipinjem tetangga, tapi tetap masih bisa berbagi, bersyukur karena masih banyak orang lain yang belum diberi kesempatan memiliki kendaraan roda empat. bersyukur karena jelek jelek, hasil keringat kami sendiri yang halalan thoyyiban insyaAllah. bersyukur karena meski butut masih bisa kepake untuk nolongin rekan dan kolega yang membutuhkan, bisa dipake santunan anak yatim ke kampung kampung, masih berguna juga sama orang tua yang katanya besok mau pake untuk undangan ke family di Jakarta.
dan terakhir.. bersyukur karena meski jelek bisa duduk tenang tanpa takut ada yang ambil alih karena uang untuk belinya adalah uang hasil korupsi... (aha.. yang ini pembelaan khas orang orang yg ga mampu beli mobil mewah.. padahal kan walau mereka mewah belum tentu juga korupsi... )

Jam 3.30 ba'da Ashar
ini resiko menjadi ibu yang demi buah hatinya harus berenti kerja kantoran dan melakukan pekerjaan freelance yang bisa dikerjakan di rumah. Boz minta buatin rekap tagihan tepat disaat mau pulang kampung. dan besok pagi harus selesai (duh dr kemaren kemaren di rumah ga sekalian). ga mungkin juga ngegagalin berangkat karena udah kepalang janji sama anaku, tadi aja dia udah ga sabar minta cepet cepet berangkat ke apit (tantenya) padahal aku harus keliling keliling dulu  nitipin buku arisan, nyariin pengganti pemegang uang arisan bulanan yg jatuh di minggu ini, nyetorin uang sampah dan keamanan ke pak bendahara RT dan nitipin uang kas yang mau dipake dah gitu harus mampir ke kantor dulu nganterin hasil kerjaan.

terpaksa deh kebahagiaan ini meski di delay sesaat untuk berkutat lagi dengan laptop dan kertas kertas akhirnya selesai juga, segala  pas mau ngeprint komputer rumah ortu pake rusak lagi, bawa laptop yang kecil (netbuk) ga bisa install driver printernya  krn gada cdroom . terpaksa lah ngeprint di warnet adek yang jaraknya lumayan... sekalian motokopi deh.. yah ini tetap harus aku perjuangkan atas nama profesionalisme dalam bekerja. (whoaaa).
 
jam 5 sore
Smua selesai, tinggal mikirin gimana ngiriminnya besok, ga kebayang perjalanan balik lagi ke kantor yang letaknya deket rumahku disana cuma untuk nganterin ini. terus balik lagi ke rumah ortu disini.. hmmm..
terbersitlah ide untuk titip ke seorang sohib yang ngantor disana tapi rumahnya kota ini, lumayan tapi ga terlalu jauh gimana ya ngejelasin jauhnya.. ya kira kira sejauh dari sini naik ojek, trus 2 kali ganti angkot trus naik becak deh... wew... tapi jauh lebih baik dari pada nganter langsung ke kantor apalagi kalo pake mobil sendiri kan ga kerasa sejauh itu, dia bolak balik tiap hari dari sini. kalau sore ini sampai di tangannya semua berarti sudah selesai.

berangkatlah aku kesana sore ini juga, ga mungkin besok karena dia berangkat jam 5.30 pagi dari sini. kebetulan adeku goimo mau pergi ke arah sama, ikutlah dia denganku, syukurlah minimal ada teman ngobrol di jalan. nyusul deh ade yang satu lagi kelas 1 smp, "gw juga ikut jalan jalan atuh", eh pas sampe di pintu mobil ponakan (2 thn) dan anaku (3 thn) udh siap mau berangkat tanpa fikir diajak apa engga. Mana tega ga ngajak..??

and the story  begin..... eng ing eng......:

"sini gw yang bawa sampe tempat les, nanti baru lu lanjutin" kata adiku, hiks akhirnya... terwujud juga lamunanku tadi siang.
Bismillah... segala doa doa kupanjatkan agar selamat, disusul wanti wanti supaya jalannya hati hati (maklum usia abg msih labil jadi perlu diperingatkan). berhasil, dia meluncur dengan hati hati dan nyaman, gak ngebut.

Berjalan santai,,,,,,,,,,, hingga tiba tiba di depan jalan kami melihat kerumunan orang....
Paling depan anak anak kecil berbaju koko dan berpeci, lalu disusul oleh bapa bapa yang juga berkoko dan berpeci.."ada pawai apa ya.?" tanyaku melihat seluruh jalan raya di depan kita dipenuhi oleh gerombolan orang tidak menyisakan ruang untuk kita melaju (di semua jalan sebelah kiri, hanya tersisa sedikit di kanan untuk mobil dari arah berlawanan). Mobil kami sudah berhenti sebelum seorang bapa yang paling depan mengetuk ngetuk halus(persis ketukan nina bobo kepada bayi) kap depan mobil mengisyaratkan untuk berhenti dulu dan berhati hati dan sebagai isyarat untuk mengarahkan gerombolan agar beralih dari depan kami ke samping kiri kami yang masih tersisa satu meter setengahan.

jam 6 sore saat itu, 18 menit menjelang magrib, 
kami sudah niat mau buka puasa sunat bersama di warung makan dijalan lalu mencari masjid untuk shalat dulu sebelum melanjutkan perjalanan..

Mata kami masih berkeliaran mencari jawaban apa sebenarnya yang mereka kerjakan... lalu terkesima saat mengetahui bahwa sekumpulan orang itu sedang membawa keranda mayat mungkin mau dibawa ke masjid untuk dishalatkan. gerutuku dalam hati tadi waktu melihat orang orang itu memotong jalanku langsung termaklum begitu saja mengingat duka yang sedang mereka rasakan.

tapi masih saat kami sedang terkesima itu, tiba tiba saja kami terperangah oleh kejadian biadab oleh salah satu anggota kerumunan itu, entah ia anak dari mayat yang digotong itu atau kerabat atau hanya tetangga.
entah apa yang ditanyakannya kepada gerombolan lainnya di jarak yang cukup jauh dariku, kurang lebih tiga meter, lalu tiba tiba saja dia berlari ke arah mobilku yang sedang menjogrog terpaku menyaksikan mereka. membawa sebilah kayu besar dan ..... 

tiba tiba saja ia memukuli kaca kiri depanku sekeras kerasnya, tepat dikaca yang ada keponakanku yang baru 2 tahun duduk berpuluh puluh kali sejadi jadinya, lalu pindah ke kaca belakangnya dimana anaku yang baru 3 tahun berada di sisinya berpuluh puluh kali segila gilanya.........

ia berusaha sekuat mungkin dengan seluruh kekuatan dan tenaga yang dimilikinya, dengan amarah yang membabi buta sebuta mata hati dan nuraninya.... 
berusaha untuk memecahkan kaca kaca itu... 
menggedor gedor sejadi jadinya.... sekencang kencangnya, bak halilintar yang mengamuk tiba tiba saja saat alam tak menunjukan adanya mendung... 

tak puas ia pindah ke kaca ke tiga, lagi lagi meluncurkan pukulan kayunya bertubi tubi, tepat dihadapan kerangda mayat yang sedang melewat itu.....  berusaha mengeluarkan segala kebodohan, kegoblokan dan ketololan yang dimilikinya, mengungkapkannya pada semua orang yang ada.... dan tak pernah puas... 
terakhir aku menyaksikan ia berusaha menghancurkan kaca belakangku..... 

hampir 10 menit, kejadian itu terjadi pada kondisi kami semua yang masih terperangah, terperanjat, terkesima tidak mengerti akan apa yang terjadi...  bak semua benda benda di alam ini berhenti bergerak, detik detik waktu berhenti berlaju, detak detak jantung berhenti tiba tiba, aliran darah dan hembusan nafaspun berhenti.......

orang itu dipegangi oleh orang orang di sekelilingnya, agar tidak melanjutkan lagi aksinya, tapi pandangannya masih galak menggonggong ke arah kami dengan tatapan merah kebencian, bak kebencian seorang anak yang ayahnya sedang jadi mayat gara gara ditabrak oleh kami... bak kebencian orang depresi yang sedang menyaksikan mayat anaknya yang mati karena ditabrak oleh mobil sejenis dan sewarna dengan kami.... atau.. bak orang yang ingin melampiaskan amarah dan kekecewaannya tapi kepada orang yang ditujunya tapi salah...
smua itu hanya praduga yang terfikir dalam 10 menit periode menyakitkan yang disaksikan dua bocah kecil tak berdosa itu... , dan saat jantung mulai berdetak, dan benda benda alam berjatuhan dan beterbangan kembali setelah berhenti sejenak. aku baru sadar kalau saat itu aku sedang didzolimi... 
tanpa dosa dan salah yang kami buat.. tapi kami diperlakukan sedemikian rupa.... ????????????

"berenti im... turun..! orang itu cari perkara sama kita, bukan kita yang cari perkara..! ini saatnya membela diri saat kita di injak injak tanpa satu tetes saja kesalahan, ini saatnya mempraktekan ilmu bela diri lu yang selama ini lu latih......!!!!!!!!!!!! 

aku geram segeram geramnya, marah semarah marahnya... jiwa bugisku tiba tiba saja muncul, ingin rasanya kutampar mukanya di hadapan mayat itu.... biar arwahnya menjadi saksi kebiadaban dan kebodohannya itu.... hu...huhu... andai saja diperbolehkan tuhan, aku yakiiiinnnnn sekali mayat itu akan bangun untuk meminta maaf  kepadaku atas apa yang telah dilakukannya itu... 

berusaha berfikir rasional, adiku yang sedang menyetir perlahan menjauh menjawab "mayat mayat.... ini lagi berduka.... , kalo ini bukan iringan jenazah tapi cuma pawai rebana, udah gua cabik cabik mukanya"
aku menyesali kelembekan nyali adiku yang sebetulnya fisiknya sangat terlatih itu, yang padahal jika saja ia turun sudah dipastikan orang itu terkapar tak berdaya. ia juara beberapa lomba bela diri padahal, apalagi di mobil juga banyak benda keras yang ampuh untuk dijadikan senjata, dongkrak, kunci stang dan kunci2 ingris.

menyesali, tapi sekaligus memuji betapa ia lebih rasional dariku di detik detik ketika sisi reaktif manusia terpancing begitu dasyat... , ia tidak segila orang gila itu dan tak sebodoh orang bodoh itu...yang memancing keributan disaat berduka...

aku bersyukur masih bisa menyelamatkan tangan dan lidah ini dari makian, hujatan dan tamparan tamparan balasan atas kekurang ajarannya itu... dan bersyukur karena atas izinnya, kaca yang dipukul sedemikian dahsyat itu begitu kokoh tidak pecah... persis seperti ketidak mampuan api membakar tubuh suci Nabi Ibrahim....

tapi sampai detik ini... pukul 3.08 dini hari, 
aku masih tak mengerti alasan orang itu melakukannya... 
apa karena dia fikir (menyangka) orang di depan itu mengetuk ngetuk kap mobilku karena aku tidak mau berenti.????? ah masa..??? karena dengan sesadar sadarnya kami sadar bahwa kami sedang berjalan pelan dan berhenti sebelum orang di paling depan itu mengangkat tangan sebagai tanda stop... betapa piciknya ia jika beraksi karena praduka tak bersalah seperti itu... 

apa kaya gini ya..?
dia di kerumunan belakang : "ada apa ko tiba tiba pada lambat jalannya?" soalnya kami mobil pertama yang bertemu mereka sebelumnya lengang kosong jdi mereka bisa jalan cepat
seorang diantara kerumunan menjawab "itu ada mobil"
lalu dia tiba tiba lari dari kejauhan ke arah kami dan memukuli karena menganggap kami melarang dia jalan/menghentikan laju sekumpulan orang itu??

aku benar benar ga mengerti......
karena dia datang tiba tiba dari arah yang jauh.. bukan orang yang berada di garis paling depan yang bertemu langsung dengan kami..

apa dia gila? depresi? mabuk? atau apa..????????????????????????????
kami tidak melakukan kesalahan sedikitpun..!!!! 
tidak ada yang kaget karena kami berhenti mendadak dari ngebut... krn kami sedang jalan pelan
tidak ada yang tersenggol, terserempet, apalagi tertabrak bahkan tersentuh pun tidak.....!

jika ia fikir kami tidak menghargai mayat?? kami tidak menyentuh sedikitpun keranda mayat itu, malah kami harus nyari nyari liat kesana kemari sampai kami menemukan ada keranda mayat ditengah tengah kerumunan itu... dan kalau ia fikir kami tidak menghargai mayat? haruskah ia tidak menghargai kami yang jelas jelas masih hidup ini...???

ya Allah kasihan arwah mayat itu, bahkan untuk menuju ke peristirahatan terakhirnya  pun  ia tidak menemukan ketenangan.... pasti ia ingin sekali kembali ke jasadnya lalu bangun dan memaki si orang tadi, saking malunya sama kami.... 

ini lah bumiku indonesia, aku jadi teringat kisah orang yang sedang jalan cepat cepat dipukuli habis habisan, ditelanjangi, disiksa dan dianiyaya oleh masa yang tidak tahu, gara gara mendengar teriakan copeeeett.... , padahal copet yang sebenarnya berlari ke arah yang berlawanan..... praduga tak bersalah...! 

itulah bumiku.. yang penuh dengan orang yang masih memuja emosi dan sok jagoan tanpa alasan.....







READ MORE - mobilku dipukuli di hadapan mayat

Wednesday, 9 February 2011

cewek ter CHANTIQUE dalam hidupku...


Yaa... dialah cewek /wanita tercantik dalam hidupku..., tentu kau sedikit bingung kawan... karena melihat pic yang aku upload sepertinya tak sesuai dg judul noteku ini...
jangan heran kawan...
karena arti cantik yang kumaksud disini tidaklah sama dengan mereka yang miskin akan gambaran yang sesungguhnya  dari sebuah kata 'cantik', bukanlah arti cantik dari mulut seorang pria yang haus akan sex dan kemolekan fisik semata dan bukanlah arti cantik dari seseorang yang begitu tajam bola matanya namun begitu buta mata hatinya hingga tidak bisa menerobos ruang lain yang berada jauh didalam topeng fisik semata....

namun..
sebuah kecantikan yang terjaga jauh di suatu tempat di dalam dirinya terjaga kokoh bak kokohnya perlindungan dinding rahim seorang ibu untuk bayi yg dicintainya. kecantikan yang kadang tak dapat terlihat oleh mata telanjang namun pasti dapat terasakan indahnya...tak mudah pudar dan tak dapat lekang oleh terik mentari meski tak dilapisi sunblock dan tak dapat dipalsukan oleh riasan make up produk manapun...

ya... ia begitu cantik dimataku...

 betapa tidak..?
karena kecantikan rahimnya telah ikhlas melindungi aku dan 8 putra putri lainnya selama masing2 9 bulan lebih, merawat, membesarkan dan memenuhi asupan nutrisi meski ia sendiri kekurangan lalu  membawanya kemana ia pergi meski lelah dan peluh bercucuran... lalu melahirkan kami satu  per satu, dengan rasa sakit luar biasa yang berulang ulang.... mendidik dan menemani kami melewati ruang dan waktu. melepaskan segala kesenangan  dan harapan2 pribadinya demi kami semua...

betapa tidak..?
karena kaki2 cantiknya itulah.. , yang rela turun ke sungai jam 2 tengah malam dalam kondisi hamil tua, membawa lampu petromak (krn blm ada listrik saat itu) untuk menyaring pasir dg pengkinya, mengumpulkan butir2 pasir tsb untuk dijual esok hari,memastikan esok hari anak2nya dpt menikmati sesuap nasi... tidak kelaparan...

betapa tidak..?
karena tangan2 cantiknya itu lah yang telah memelukku erat saat usiaku baru 2 minggu di dunia sambil memegang erat tangan kedua kakaku berlari dari rumah kami yang roboh dihantam hujan angin, saat ayah kami tdk di rumah dan tak seorangpun ada di sekitar dan dapat membantu. melupakan segala hal apapun tentang dirinya kecuali sebuah harapan agar anak anaknya ini selamat... , lalu beberapa saat kemudian air matanya yang cantik bercucuran deras sambil gemetaran memegang tubuh mungilku yang membiru, beku kedinginan, sambil menyalakan api unggun seadanya lalu mendekatkan tubuhku diatasnya, bukan untuk membuat sate ataupun makan malam... tapi menghangatkanku... sambil kedua bibir cantiknya itu tak henti berdoa, berharap Tuhan memberikan keajaiban agar aku.. si bayi mungil itu.. kembali bernafas, dan memiliki kesempatan kedua.. untuk bertahan hidup.... dan berkat doanya itu... hingga hari ini aku msh bisa bertahan.. menikmati hangatnya mentari pagi.., menghirup murninya udara dan yang pasti msh bisa merasakan hangatnya pelukanmu mama...

terimakasih mama, dari rahimmu aku hidup, dari doamu aku mendapat rahmat, dari mulutmu aku belajar ttg kehidupan, dari tanganmu setiap lekuk2 sel dr tubuhku tumbuh  hingga menjadi spt skr ini...
mama, mencintaimu, menggagumimu, menghormatimu, mendoakanmu akan kulakukan setiap hari ..... .... karena kau wanita tercantik dalam hidupku..
smoga Allah memuliakanmu sebagaimana kasihmu yang begitu indah..
smoga harapan2mu terwujud...  smoga impianmu memuja Tuhan  di rumahnya Baitullah segera terwujud... karena ku yakin, Tuhanlah yang pasti mengundangmu kesana dan menyiapkan ruang terindah di kamar tamunya.. atas apa yang telah kau korbankan selama ini demi merawat kami, amanah Nya padamu...
I love u mom...

READ MORE - cewek ter CHANTIQUE dalam hidupku...

Friday, 4 February 2011

Cinta Pria Yang Tak Romantis

Ini kisah cinta,
Tentang cinta seorang Romeo, tapi bukan Romeonya juliet yang fenomenal itu, ini tentang Qais, tapi bukan Qais sang penyair yang menjadi majnun gara gara laila pujaannya

Ini tentang Irwan, tapi…. lagi lagi bukan Irwansyahnya Acha yang terkenal lewat lagu lagu duet romantis mereka yang ternyata akhirnya tidak happy ending..

Ini tentang Irwannya Siti Nur Rahmah (sekali lagi! bukan siti nur baya!) gegegege….,

Ya, ini tentang dia, dia  yang kini menjadi imam ketika ku memujaNya.. , ia yang menemaniku menapaki misi suci kehidupan yaitu mengabdi kepada yang maha Esa, ia yang melabuhkan pelayarannya di dermaga hatiku, ia yang menjadi pengisi kepingan kosong pada satu sudut hatiku, dan menjadikannya penuh.

Ia yang selalu menjadi orang pertama yang kulihat setiap kali membuka mata dari peristirahatanku, ia yang selalu rela menyiapkan bahunya setiap saat untukku menangis, ia yang paling mengetahui isi dari setiap lorong lorong tersempit dalam jiwaku, ia…, yang pada tatapannya aku menemukan keteduhan dan pada hangat belaiannya, aku mendapatkan kedamaian..

Tapi ia bukan orang yang pandai mengukir kata cinta yang membuatku terbang melayang layang di dunia yang semuanya berwarna merah muda… ,bersama cupit yang membawa anak panah yang juga merah muda dan di atas tebaran bunga bunga yang juga merah muda!

Bukan orang yang pandai mengikat pita pada kado surpize di hari istimewaku, hiks jadi teringat kado terakhir yang diberikannya di hari ulangtahunku kemarin, hanya dibungkus kertas koran bekas yang dieratkan dengan cetrekan hekter yang jumlahnya puluhan, tidak berbentuk kotak atau hati, tapi berjubel jubel persis kertas ga kepakai yang udah diremas2 yang mau dibuang ke tong sampah gegegege….

 Ia bahkan melupakan tanggal pernikahan kami di tahun ke 2 kebersamaan kita (kwkwkwk), ia bahkan tak pernah membelikanku setangkai saja bunga kamboja, apalagi bunga mawar tentunya, bahkan mungkin jika hari ulang tahunku bukan sehari setelah tanggal dan bulan ulang tahunnya pun, ia tidak akan mengingatnya, dan yang lebih parah ia hanya membalas pesan pendek  I love u cinta yang kukirimkan padanya di hari kerjanya dengan kata “ cuih heheee”….. grgrgrgr…!

Tapi celakanya…..
hanya ia kumbang yang dapat membuat kelopak kelopak bungaku bermekaran dan enggan layu… dan hanya ia, yang mampu mencairkan kebekuan jiwa yang telah lama mati, dan hanya ia, yang mampu membuka kembali pintu hati sejak ia terkunci rapat..

Karena cintanya yang tak tertulis dalam bait bait puisi dan genggaman bunga itulah yang mampu membuatku tetap tegak berdiri di dunia nyataku… bukan di dunia khayal dan angan angan semata…
Karena ia… mencintaiku dengan caranya yang realistis..  membuatku tetap menapak di jalanku, menyadarkanku betapa cintanya itu nyata, dan bukan teori semata, membiarkanku menikmati setiap hembusan cinta yang ditiupkannya sebagai aku dan dia bukan sebagai peri cinta dan dewa cupit yang jelas jelas bukan kita….

Karena cintanya itu, selalu memenuhi ruang kosong pada sisi sisi kekuranganku, membuatnya sempurna…

Karena cintanya itu, selalu memilihkan yang terbaik untukku, bukan yang semata kuinginkan..

Karena cintanya itu, berbeda warna dengan cinta yang kupunya, membuat cinta kami berpadu dengan elok.. karena kesempurnaan itu bukan ketika serupa, tapi justru ketika keberagaman dapat menyatu membentuk sebuah sinergi yang indah…

Dan cinta itulah yang sesungguhnya kubutuhkan untuk hidupku…

Terimakasih cinta,…
Atas cinta istimewa yang kuterima setiap hari
Dan juga atas hp android putih yang kau hadiahkan malam tadi, bukan saat aku memintanya, tapi justru saat kau tahu bahwa aku membutuhkannya…..:)
Hadiah satu satunya yang kau berikan di bulan Februari(biasanya Cuma kasi atmnya hehe…), meski aku tak yakin akan kesengajaannya, tapi setidaknya itu membuktikanku bahwa kau juga sesungguhnya pria yang cukup romantis hehehe….

Luv u beipb…!
READ MORE - Cinta Pria Yang Tak Romantis

Wednesday, 2 February 2011

Senyuman 'Emak'

"Tan, tan, maaf ema bangunin tante lagi tidur, lagi sakit apa tan? ko pagi pagi tidur?"

Sayup sayup terdengar suara emak pembantu rumah tetangga  di samping tempat tidurku beberapa waktu lalu, mengembalikan nyawaku yang lagi melayang layang beterbangan kesana kemari di alam mimpi, kembali ke jasadku yang tengah terbaring pulas.

Sambil mengucek mata yang baru terbuka setengah, aku menjawab:

"ah engga ma' semalam azka sakit muntah muntah, semalaman ga bisa tidur,  sekarang ngantuk banget jadi tidur dulu lah bentar sebelom beres2 rumah, ada apa ma, tumben?" tanyaku menelisik.

Maaf ya tan sekali lagi maaf ema ada perlu makanya bangunin tante, sambil membuka kancing atas bajunya lalu merogohkan tangan ke arah dadanya. dahiku mengernyit semakin penasaran akan kelanjutan ucapannya sambil menebak nebak kemungkinan yang akan terjadi. Tangannya terus merogoh seolah mencari sesuatu, ya sesuatu yang dia simpan disana, ditempat yang menurutnya paling aman khas nenek nenek kampung seusianya. 

Sejurus kemudian, terlihat kilauan dari dua buah benda berharga di telapak tangannya, di dalam sebuah plastik kecil terbungkus kain perca berwarna hitam. membuatku semakin penasaran akan maksud yang ditujunya.

"Gini tan, ema mau minta tolong, ini ema ada cincin sama gelang emas, simpenan ema segini gininya dari jaman muda dulu, mau dijual sayang takut kaga kebeli lagi, tapi ema ada perlu, ema mau pinjem uang tante, biar tante pegang dulu ini terserah tante mau pegang yang cincin apa yang gelang". 

Hiks, gaya bahasa khas sekali, khas nenek nenek keturunan asli daerah cileungsi yang berpadu antara betawi dan sunda. Intonasinya lembut, juga lemah seolah berharap sekali keinginannya bisa terwujud.

Hatiku semakin bertanya tanya, bak sedang menonton kisah cinta dramatis, menanti adegan selanjutnya apakah happy ending atau sad ending. tak sabar menanti ujung harapan yang diucapkannya terlalu bertele tele, wajarlah ia pasti tidak tahu kalau aku adalah orang yang sukanya strict to the point dan pastinya dia juga ingin aku mengerti dulu alasan atas apa yang ia lakukan. Ia sudah biasa meminjam uang kepadaku, malah hampir setiap bulan setiap beberapa hari sebelum gajiannya dari upah menjadi pembantu rumah tangga keluar, tapi kenapa tumben sekali kali ini pinjamnya segala pake bawa bawa perhiasan segala, fikirku.

"Ini tante pegang aja dulu, soalnya ema kan sekarang mah minjemnya banyak, (huft, jantungku berdegup ketika ia sampai pada kata ini) biasanya kan 20 rebu apa 50 rebu, sekarang mah banyak tan makanya ema bawa ini, nanti ema ambil lagi kalo udah bisa bayar.. sodara ema mau hajatan tapi ga punya duit, dia minta ema nolongin dia beliin gula, nanti diganti kalo udah hajatan. ema kesian pengen banget bantuin dia tapi ga punya duit makanya ema minjem dulu ke tante". 

Waduh, batinku perih, kenapa orang orang membutuhkan bantuanku di waktu bersamaan? seketika aku jadi teringat uangku yang sedang dipinjam beberapa orang, belum kembali. uang cash di tangan juga semakin menipis, belom lagi beberapa kebutuhan hidup sudah habis belum dibeli. mana si ema bilang butuhnya banyak lagi, segala pake jaminan begitu bisa jadi 500 ribu ato sejuta ato lebih nih kayaknya, taksirku sekenanya. 

Aku paling tak tega jika berhadapan dengan orang seperti ini, nenek nenek, pembantu, orang susah lagi. Rasanya gak sanggup melihatnya kecewa selepas keluar dari rumah ini tanpa mendapatkan sesuatu yang ia harapkan. Tapi bagaimana ya caranya menyampaikan ketidakmampuanku ini. Aduh... tiba tiba saja mulutku jadi sulit berucap bak seorang gagu yang ingin sekali menyampaikan sesuatu tapi tidak bisa. emaaaaa maafkan akuu.... ,

"ema emang butuhnya berapa?"
 
Mengumpulkan keberanian dan rasa tega dalam jiwa, mencoba bertanya sambil mengulur waktu untuk memberi kesempatan pada otak mencari dan merangkai kata kata yang pas untuk disampaikan. Tiba tiba saja aku jadi seolah berada pada posisi spongesbob kartun kesayangan anaku pada episode mengobrak abrik isi lemari arsip di otaknya mencari siapa namanya. Otaku sibuk sekali mencari cari tapi tidak ketemu! 

Tapi.... sedetik kemudian tiba tiba semua kerja otak itu terhenti bak sebuah permainan gamehouse yang sedang di pause. saat terdengar jawaban dari si ema:

"Banyak neng, seratus ribu...!"

Semua karyawan di dalam kantor otakku yang tadi ramai, sibuk bekerja tiba tiba saja menjadi sepi, lemah, terjatuh dari berdirinya masih memegang berkas yang sedang dicarinya. Matanya semua terbelalak, mulutnya ternganga tanpa sadar, lalu menutupnya sambil menggelengkan kepala masing masing.

"Simpan saja ma gelang dan cincinnya, ditaro disaya malah nanti ilang". 

Serayaku sambil menyodorkan selembar uang berwarna kemerahan yang ia harap. 

Ema tersenyum simpul, bahagia sekali, senyum yang manis meski pipi lesungnya sudah keriput dimakan usia dan meski giginya ompong tinggal separuh ...   Disusul rasa terima kasihnya yang tak henti henti terucap...

Aku juga tersenyum, senyum kelegaan dan bahagia karena dapat menolongnya.

***

Kadang kita menyepelekan sejumlah uang yang kita miliki, tapi di luar sana, banyak sekali orang menganggap itu saangat berharga dan sulit sekali untuk mendapatkannya. Mari kita saling berbagi dan saling membantu agar kesenjangan  tidak terjadi.


READ MORE - Senyuman 'Emak'

Monday, 31 January 2011

Rahma dan Rahmi

hiks, ketawa ketiwi sendiri gara gara lagi iseng2 BWan eh nemu tulisan jadul ini di blog seorang sahabat, sehubungan ini tentang 'aquh', jadi ada baiknya diamankan disini juga... :


Rahma dan Rahmi


Namanya kaya anak kembar ya? iya kembar, tapi beda ayah beda ibu. Hehe....

Aku kenal dan deket sama rahma sekitar akhir tahun 2004, pertama kali masuk kerja waktu masih langsing dulu.. ho hoho! sebelumnya udah kenal sih, rahma kan kaka kelas waktu kuliah dulu. Dulu adiknya rahma sempet jadi asisten dosen dan ngajarin aku kelas speaking, pernah beberapa kali ketemu sama rahma, kesan pertama dan seterusnya, JUTEK! He he he 

Semenjak bergabung dengan kantor yang dulu, kita jadi dekeet banget. Sebenenya deket kepaksa kayanya karna gak ada lagi temen cewe di kantor. he hehe he ! kemana mana selalu bareng, pake baju pun kadang kembaran, rahma juga banyak ajarin aku hal hal yang buat aku adalah hal baru, thank you sis, luv you so much!


Pokonya kita selalu dalam situasi yang sama, kaya waktu jamannya aku harus memilih satu diantara para kumbang kumbang gombal itu, dengan saran sarannya aku bisa memilih teman hidup terbaiku dan dengan lapang meninggalkan si mas londo itu, padahal pada saat itu juga rahma harus berjuang meyakinkan hatinya untuk menerima sosok fatamorgana itu dalam kehidupannya. 


Saat rahma harus berjuang untuk operasi apendix dan menahan sakit pasca operasi, aku harus berjuang juga melawan kebosanan dan kekacau balauan dikantor tanpa dirinya. Ugh ingatanku jadi melayang layang ke jaman dulu, jaman kita dulu tanpa urusan rumah tangga, jaman gak pusing mikirin harga susu yang terus naik, jamannya buang buang duit untu hal hal yang gak penting, jaman yang kita harus terbiasa bersahabat dengan kernet bis... oh indahnya jaman ngebujang....!


Sampai saatnya kita menyusun rencana pernikahan yang sengaja kita susun supaya gak mengganggu kegiatan dikantor dan bisa enjoy dengan masa honey moon. Eh tapii.... rahma gangguin honeymoon aku dulu dan pengen ikut ikut segala kepuncak, bukan honeymoon tapi malah piknik se ER TE. 


Pada saat saat berat aku hamil syauqi dan sudah merasa gak nyaman dengan pekerjaan yang terlalu berat, rahma rela aku tinggalin pindah ke kantor baru, sementara SPDnya di tolak oleh pak bos. Padahal dia masih dalam masa masa honey moon. 


Setiap sore tiga tahun yang lalu, pasti ada sms masuk cuma untuk nanyain resep rendang telor, atau bumbu sayur asem. Tapi sekarang sudah ahli bikin empal, tapi kemaren sore masih sempet nanyain bumbu sop iga... he!


Saat aku masih dalam efek obat bius, pertama kali aku sadar dia orang yang pertama aku telpon, bukan mertuaku.. heheh maaf ya umi! Besoknya susah payah dia datang tengokin aku dan syauqi padahal seharusnya dia bed rest total karena azka yang waktu itu masih didalem perutnya begitu lemah. 


Tapi ketika waktu melahirkan azka, naluriku sebagai teman begitu kuatnya, bahkan aku hafal nama dokter kandungan yang biasa memeriksanya tiap bulan, dan aku bisa tau kalo waktu melahirkannya akan tiba sebelum kita sampai dirumah sakit bogor, padahal aku sendiri gak ngalamin kontraksi seperti itu, hu hu hu 


Selain itu kita juga punya banyak kesamaan, sama sama takut ke dokter gigi, sama sama punya suami yang buaik buanget, sama sama sayang anak, sama sama suka buang buang duit gak puguh, he he ya kan ma? 


Tapi... aku belum berhasil ngomporin rahma tuk suka baking, padahal udah dimodalin mixer, loyang, bahkan ulangtahunnya yang kemaren kita patungan beli oven. tapi teuteup... gak ngepek! 
Mudah mudahan peralatan sulam pita yang kita beli kemaren berhasil tuh menghidupkan sisi kewanitaannya, heh eh he, Peace!!! 

Buat rahma, tengkyu ya for ol of the kindness, for ol of your best smile, thanks for this lovely friendship. Hope we are always in friend forever.....
READ MORE - Rahma dan Rahmi

Isi = Kosong

Ternyata
Kosong  = Isi........
Isi   =  Kosong......
Keberadaan adalah kehilangan
Kehadiran adalah kehampaan
Ach... aku tak mengerti... 
Mengapa semua jadi terbalik begini...?
Aku tak pernah merasakan sepi begitu mencekam sebelum kehadiranmu dalam hidupku..
Aku tak pernah merasakan kehampaan menyiksaku begitu perih dalam denting keramaian..
Mengapa aku malah merasakan sesuatu yang kurang saat sesuatu bertambah dalam diriku..?
Lalu dari kamus mana aku harus memaknai arti semua ini..?
Ach... aku sama sekali tak mengerti..
Rasa ini.. memang sulit ku mengerti...
READ MORE - Isi = Kosong

Sunday, 30 January 2011

Satpol PePe, Bukan Solusi

Ini hanya sebuah jeritan hati yang perih melihat kondisi sosial bangsa ini.. mohon maaf jika ada yang tidak berkenan or tidak sependapat....

Siapa yang mau jadi orang susah? anda mau? sepertinya tak satupun orang punya cita cita ingin jadi anak jalanan, pengamen, peminta minta, menjadi orang pinggiran/kolong jembatan yang merusak pemandangan ibukota dan menjadi pedagang emperan kaki lima.

Tapi itulah potret bangsa ini, negara yang terlihat begitu kumuh, miskin, tidak higienis dan balatakan (berantakan;sunda).

Tapi apakah solusi semua kondisi diatas adalah dengan Satpol PP?

Izinkan saya mengatakan tidak! karena gambaran yang kita lihat adalah cerminan kondisi negara kita sendiri. Negara yang rakyatnya susah, susah hidup, susah mendapatkan pendidikan yang layak, susah mencari lapangan pekerjaan dan lain lain. Alhasil, rakyat menciptakan jalannya sendiri untuk bertahan hidup. Ada anak anak yang menjadi pengamen jalanan demi membantu orang tua  miskin yang tidak sanggup mencari cara yang lebih terhormat untuk menghilangkan rasa laparnya. ada yang tidak punya modal besar untuk menyewa kios di pasar, lalu menggelar dagangan ala kadarnya di pinggiran jalan agar masih bisa mendapatkan sesuap nasi untuk dimakan hari itu. ada yang meminta minta untuk sekedar dapat bertahan melanjutkan hidup dan lain sebagainya.

Negara sebaiknya menghitung tingkat kesejahteraan negeri ini dengan melihat potret yang terjadi di jalanan. bukan dengan hitungan angka angka belaka yang jumlahnya setiap tahun meningkat, padahal kenyataannya rakyat miskin di jalanan semakin bertambah bukan berkurang.

Maka jika tidak mau bangsa ini terlihat kumuh oleh mereka yang dianggap mengganggu ketertiban dan keindahan tatanan lay out bangsa ini, ciptakanlah kesejahteraan rakyat, permudah mereka mengenyam pendidikan untuk bekal hidupnya, permudah mereka mendapatkan lapangan pekerjaan dan lain lain. bukan dengan Satpol Pepe yang hanya menambah jeritan rakyat, tangisan orang orang susah, kesedihan mereka yang kehilangan modal hidup yang segitu gitunya dan cara bertahan hidup yang hanya mampu mereka lakukan.

Semoga kelak bangsa ini menjadi bangsa yang benar benar sejahtera, kesejahteraan yang dapat kita saksikan dengan mata telanjang, bukan hanya dengan angka angka peningkatan yang tidak terbukti. amin.
READ MORE - Satpol PePe, Bukan Solusi

Thursday, 27 January 2011

sahabat yang hilang

Dulu kita sahabat
Teman begitu hangat
Mengalahkan sinar mentari

Dulu kita sahabat
Berteman bagai ulat
Berharap jadi kupu-kupu

Kini kita berjalan berjauh-jauhan
Kau jauhi diriku karena sesuatu dst...........

Yah.. lagu itu memang cocok sekali dipakai sebagai soundrack dalam balada kisah persahabatanku yang lenyap dimakan waktu.

Aku bertemu dengannya sewaktu SMA, Allah telah mentakdirkan kami duduk sebangku di kelas 1.2, di meja paling depan deret bangku kedua dari kiri, tepat di depan bangku guru yang paling tidak diminati kawan kawan lainnya.

Berbeda denganku, ia adalah lulusan sebuah pondok pesantren (ketika SMP), lalu melanjutkan ke SMA (tepatnya MAN) tempat kami bertemu, sedangkan aku justru masuk sekolah itu untuk dapat merasakan rasanya menjadi seorang santri, aku ingin belajar menjadi pribadi yang mandiri tanpa orang tua dan tentunya ingin menimba ilmu agama untuk bekal hidupku kelak.(ia tidak masuk pesantrennya hanya MAN nya saja karena rumahnya dekat sekolah)

Aku dan dia, sama sama berasal dari keluarga tidak mampu, itulah awal yang membuat persahabatan kami semakin erat, kerasnya kehidupan, sulitnya perjuangan dan berbagai problematika hidup yang sama sama kami rasakan membuat kami dapat memahami satu sama lain.

ia anak yang pintar, itu juga yang membuatku senang berada di sisinya. semangat meraih prestasi yang dimilikinya setiap hari memompaku untuk dapat menyainginya. di kelas itu aku dan dia selalu bergantian berada di urutan lima teratas. kami memang bersaing, tapi kami juga bersahabat, kami saling membantu dan mendukung. berlomba meraih peringkat yang lebih tinggi tapi tidak pernah iri ketika salah satu diantara kami lebih unggul. terbukti di kelas satu, aku dua kali mendapat peringkat ke 2, dan dia di bawah aku. tapi ia tidak pernah memusuhiku atau berhenti menjadi sahabatku

Fancy, bukan nama sebenarnya, tapi ia selalu memakai nama itu disetiap hasil karyanya sebagai pengganti namanya, meski aku jg tak pernah tau alasannya.
adalah seorang remaja putri dengan postur tubuh yang mungil, kulitnya putih, matanya tajam dan bulu matanya hitam lentik. ia bersahaja, periang dan memiliki semangat tinggi dalam melakukan segala hal. ia mengajariku banyak hal tentang 'bagaimana hidup di pesantren' dan membagi kepadaku segala suka dan duka kisah hidupnya. aku mengenalnya begitu dalam, tentang dirinya, juga keluarganya. begitu juga ia terhadapku. aku begitu menyayanginya, membanggakannya dan mencintainya. hidupku dipenuhi dengan banyak sekali prinsip prinsip yang ditularkannya. aku begitu terobsesi olehnya, kemana saja selalu bersamanya seolah olah hanya dia lah teman yang dapat memahamiku.

ia senang menggambar, setiap hari ia selalu mencoret2 bukunya dengan lukisan lukisan hasil karyanya, dan itu tertular padaku, aku mulai mengikutinya, mencoba dan akhirnya bisa. 
kami sering menggambar dan menulis bersama di sela sela jam kosong. Gambar2, vignet dan hasil tulisan karya kami sering sekali menghiasi mading sekolah. aku masih ingat waktu itu ia menulis sebuah kaligrafi cantik di mading berisi pepatah tentang 'cintailah orang yang kau cintai sederhana saja karena boleh jadi ia akan menjadi orang yang kau benci di kemudian hari' . aku amat menyukai karya itu, tapi aku tidak setuju dengan pepatahnya, karena aku tidak bisa mencintainya dengan sederhana karena aku amat mengaguminya. beberapa orang menyayangkan persahabatanku dengannya tapi aku mengacuhkan, aku selalu membelanya karena aku amat mengenalinya, aku dan dia selalu saling menyemangati setiap waktu.

hiks... aku masih ingat, ia mengajariku membuat buku diary sendiri, (karena kami tak mampu membeli). sisa sisa kertas yang masih kosong, dari buku tulis yang sudah tidak terpakai dikumpulkan lalu dijilid ke tukang fotocopy, lalu jilidnya disampul dengan sampul dari lembaran majalah bekas yang ada gambarnya. (karikatur cerpen).  aku dan dia punya buku diari yang sama sama terbuat dari buku bekas(sampai saat ini masih ada). tulisannya banyak sekali terdapat dalam buku ku, begitu juga tulisanku. disana kami menuliskan kisah tentang hidup kita, menggambar karya karya kita yang mencerminkan diri kita, dan menulis lirik lirik lagu yang kami sukai. kami selalu saling belajar, ia banyak sekali mengajariku lagu lagu barat yang sedang hits, salah satunya lagu 'word' yang dibawakan oleh boyzone. ia mengajariku bagaimana menyanyikannya karena di pesantren aku tidak diizinkan untuk menonton televisi.

hmm, hari hari yang indah itu ternyata harus berakhir. aku tidak lagi dapat bersamanya selalu ,karena di kelas dua aku ditempatkan di kelas 2.1 sedangkan dia di kelas 2.4.
Aku dan dia sama sama merasa begitu kehilangan. meski kami masih bisa bertemu di jam istirahat.. tapi sayang sekali karena waktu nya begitu terbatas. di kelas itu .. aku berteman dengan banyak orang. tapi aku tidak bisa menemukan seseorang yang bisa sehati seperti ia. 
***
suatu hari aku dipanggil kepala sekolah ke ruangannya, guru kelasku bilang, 'kamu fikir fikir saja apa kesalahanmu kenapa tiba tiba dipanggil beliau". aku melangkah dengan goyahnya, berharap prasangka ku salah. karena kesalahan satu satunya yang kumiliki saat itu adalah karena sudah 3 bulan belum bayaran SPP dan pelunasan biaya DSP, Huft, aku takut sekali jika panggilan itu berarti peringatan atau keputusan DO. aku pasrah, mengetuk pintu ruangannya merelakan apapun yang akan terjadi. dan aku terkejut karena ternyata aku dipanggil karena ada informasi bahwa aku lolos diterima sebagai penerima beasiswa orbit icmi, yayasan ibu aiun habibie dan ia memintaku untuk datang ke kantor orbit di Jakarta beberapa hari kemudian. ya betapa bahagianya menderngar berita itu, padahal aku sudah hampir tidak berharap sejak beberapa bulan lalu aku sudah mengirimkan formulir pengajuan itu berikut fotocopy raport, tapi tidak ada jawaban dan kini jawaban itu datang tepat disaat aku membutuhkannya. tapi dibalik kebahagiaan itu aku juga sedih, karena fancy sahabatku yang senasib denganku tidak mendapatkannya juga, andai saja dia juga lolos kebahagiaan ini akan lebih sempurna. tapi ia tidak marah ia turut bersyukur atas ini dan pada harinya, ia bahkan rela bolos sekolah untuk menmaniku ke jakarta untuk penetapan beasiswa itu. terimakasih sobat, kau selalu ada disaat aku membutuhkan.
***

suatu hari, Abi Halim, wali kelasnya memanggilku, ia berharap agar aku dapat menemui fancy di rumahnya, untuk mendengarkan kisahnya, memberi masukan dan merayunya agar mau masuk sekolah lagi. ya ternyata kurang lebih sudah sebulan ia tidak masuk kelas. aku fikir karena kesibukan kita masing masing jadi jarang ketemu, ternyata ia tidak masuk tanpa meninggalkan jejak kepadaku. 

aku datang ke rumahnya tepat di saat ia membutuhkan seseorang untuk mendengar. ia sedang frustasi karena di tengah kondisi sulit hidupnya itu, ternyata ada seorang wanita lain yang mengaku sebagai istri kedua ayahnya. betapa tidak, ia rela hidup bersusah payah selama ini, berusaha memahami kondisi orang tua dengan tidak neko neko, mensyukuri apapun yang ia miliki dan tidak dimiliki karena ia sadar betul bahwa ia hanya anak dari seorang tukang ojek. dan ternyata tukang ojek itu memiliki orang lain untuk dibiayai juga. ia marah, dan melampiaskan kemarahannya itu dengan tidak mau sekolah. ia depresi berat kala itu, ia sudah membuang semua buku buku pelajarannya dan peralatan sekolah. tapi aku membujuknya, memberinya penjelasan dan mengingatkan ia agar ia tidak lupa dengan semangat2 hidupnya yang telah ia tularkan padaku. dan alhamdulillah smua itu berhasil, esoknya ia hadir di sekolah dan gurunya berterima kasih padaku.
***
hobi kami sama, minat kami sama, kecenderungan kami juga sama, dan persamaan itulah yang membuat kami bertemu lagi di kelas 3, karena kami sama sama mengambil jurusan  'bahasa', meski berkali kali guru guru kami mengarahkan agar kami masuk ipa, tapi kami menolak, kami tidak akan berkembang disana karena minat kami adalah di kelas bahasa. sekali lagi, kami duduk sebangku dan masih di posisi yang sama yaitu tepat di hadapan bangku guru, namun bedanya kali ini lokasinya di ujung paling kanan dekat jendela.
aku bahagia sekali masuk kelas itu, selain karena sesuai keinginanku, tapi juga karena ada dia. prestasiku juga kembali meningkat. setelah di kelas dua aku hanya masuk 10 besar, mungkin selain karena kehilangan penyemangatku, juga karena di kelas 2.1 banyak sekali saingannya karena kelas itu merupakan kelas khusus perkumpulan anak anak berprestasi dari kelas sebelumnya. di kelas ini kembali aku dan dia bersaing memperoleh peringkat 3 besar dan kami berhasil.

tiba saat nya masa masa sma harus kami tinggalkan. kami lulus dan sepakat untuk melanjutkan pendidikan ke sebuah universitas islam negeri di jakarta. sebetulnya aku dapat pmdk Universitas Negeri Jakarta waktu itu, tapi aku tidak mengambilnya karena kesepakatan kami tersebut.

hari itu aku menjemput ia ke rumahnya untuk berangkat ke ciputat mengikuti ujian test masuk kuliah. ia menyambutku bukan dengan senyuman tapi dengan tetesan air mata. ia bilang :

'lo pergi sendiri aja ti (nama panggilanku khusus hanya dia yg menggunakan) gue ga jadi'. 

hati ku hampir saja hancur, mengapa tiba tiba saja ia urungkan sesuatu yang sudah kita rencanakan bersama. dia bilang :
"gue gakan kuliah ti, nyokap bokap ga punya uang tuk biaya kuliah, bahkan untuk ongkos berangkat test masuk universitas hari ini aja mereka ga punya uang'

tidak sobat, kita tidak boleh putus asa di titik ini, kita belum berjuang. kita harus tetap berusaha mencari jalan apapun untuk menggapai impian kita. aku terus terus berusaha meyakinkannya bahwa setiap ada kemauan pasti ada jalan seperti pepatah yang sudah kita hafal betul.

aku masih punya sedikit tabungan dari sisa beasiswaku. aku mendapatkan rp. 60 ribu rupiah setiap bulan dan biaya spp cuma 17 ribu rupiah saat itu, sisanya kugunakan untuk membeli buku pelajaran dan biaya akomodasi selama tinggal di pesantren. tapi masih ada sedikit, dan yang sedikit itu sudah kupakai untuk bayar biaya formulir kuliah untuk aku dan dia karena ortu kami telah pasrah, @80 ribu kalau tidak salah. dan sisa terakhirnya aku ambil kuberikan padanya agar ia bisa berangkat hari ini untuk ikut test. kita mengambil jurusan sastra inggris saat itu.

8 agustus tahun 2000. hari ini kami berangkat ke kampus melihat hasil test kami dengan langkah separuh jiwa.
karena aku dan dia ternyata tetap mendapat keputusan yang sama dari orang tua. yaitu tidak kuliah.

ayahku bilang, tahun ini aku harus istirahat sekolah dulu, ayahku yang hanya seorang guru madrasah tsanawiyah swasta dengan anak 8 itu harus fokus membiayai kakaku yang sedang kuliah di Al Azhar Mesir dan adik adiku yang masih pada sekolah, ayahku bilang tahun depan insyaAllah bisa kuliah, karena ayah akan menabung dulu dr sekarang untuk biaya tahun depan. dan orang tuanya jg mengatakan padanya bahwa mereka tak sanggup membiayai kuliah, mau biaya dari mana wong untuk makan sehari hari aja sulit.

sepanjang jalan kami berandai andai, semoga keajaiban terjadi, agar keinginan kami ini bisa tercapai. kami masih tetap berharap bahwa kami bisa meski kondisi orang tua tidak ada.

sesampainya disana, kami berdua sama sama menemukan nama kami  terpampang di papan pengumuman kelulusan jurusan sastra inggris. 

diantara hiruk pikuk orang orang yang bersorak sorai, bergembira dan bersyukur karena mereka lulus. kami berdua merintih dalam hati, ingin rasanya dapat berteriak sejadi jadinya memaki nasib yang tertulis pada garis tangan kami. pengumuman itu sedikitpun tidak membuat kami bahagia. tapi justru menambah guratan kesedihan yang mendalam di jiwa. mengapa banyak sekali orang yang mampu dalam hal biaya tapi tidak lulus sedangkan kami berdua lulus tapi tidak memiliki biaya.. ??? hidup ini memang sulit kawan..

sebelum pulang kami mampir ke kosan tempat kaka kelas kami yang kuliah disana, menceritakan apa yang terjadi pada kami hari itu. mereka semua menyayangkan peristiwa ini, karena mereka juga tau bagaimana prestasi kami di sekolah. mereka memberi solusi agar kami mendapatkan uang untuk bayar semester pertama yang harus dilunasi di awal, bagaimanapun caranya memohon kepada orang tua kami. untuk mendapatkan uang itu untuk tempat tinggal mereka mengikhlaskan kosan mereka ditempati kami gratis, biar mereka yang bayar. untuk kebutuhan makan sehari hari, mereka akan memberikan kami pekerjaan menjadi guru les privat di lembaga tempat mereka bekerja. dan untuk semester2 berikutnya mereka akan membantu mencarikan beasiswa dr channel2 yang mereka ketahui, oh ya aku jg bisa mengajukan beasiswa ke orbit lagi jika  sudah ada nilai hasil ujian semester. bagai secercah sinar dalam kegelapan, solusi itu membuat kami bangkit bak bangkitnya bunga yang layu disiram air. kami kembali membangun mimpi dan harapan. setidaknya masih ada harapan yang bisa kita perjuangkan.

namun hidup itu tidak mudah, Allah selalu mengajarkan kami untuk berjuang keras dalam hidup ini. bahkan untuk sekedar uang 400 ribu perak, saat itu orang tua kami tidak mampu memberikannya, bak smua mata buta dan setiap telinga orang tuli saat itu, hingga tidak ada satu orangpun berempati mau membantu kesulitan kami dan mendukung impian kami yang menggebu gebu. kami telah mencoba menceritakannya kepada saudara dan kerabat, berharap ada yg bisa membantu, tapi tidak satupun. semua orang yang kita temui berfikiran sama agar kami menunggu tahun depan untuk kuliah. kecuali orang orang yg sama sama tidak punya uang yang mendukung niat kami tersebut tapi apa daya ia tidak bisa membantu. berakhirlah perjuangan itu sampai disini dengan kesimpulan; kami tidak bisa kuliah disana tahun ini.

semangat belajar kami belum patah, keinginan untuk belajar masih menggelora di jiwa, kami tidak bisa menjadi pengangguran tanpa kegiatan. hingga seorang family memberi informasi tentang sekolah bahasa arab gratis di tanah abang jakarta.bukan tempat kuliah lebih tepatnya kursus. aku mengajaknya ikut tes, kami diterima dan mulailah kami sekolah disana tiga kali seminggu, kami berangkat dengan kereta krl dari sini (bogor) bertiga dengan sahabat smp ku. sering sekali kami tidak mampu membeli tiket kereta, dan menggunakan tiket hari sebelumnya ketika petugas meminta untuk menunjukan tiket. hal yang tidak patut untuk ditiru tapi merupakan usaha satu satunya untuk bisa tetap belajar. tapi sayang beberapa bulan berlalu, fancy lagi lagi diterpa masalah ongkos, orang tuanya tak mampu memberi ongkos lagi untuk berangkat kesana lalu ia berhenti. begitu juga sahabat ku yang satu lagi. aku tinggal sendirian..tapi tetap semangat ! atas nama kewajiban menuntut ilmu, apapun yang terjadi aku tetap harus berjuang. 
meski sayang, perjuangan ini sekali lagi harus tumbang oleh perintah orang tua untuk berhenti karena khawatir membiarkan anak perempuannya berjalan sendiri bolak balik bogor jakarta dengan krl yang penuh dengan orang orang  jahat. belum lagi saat itu sedang ramai ramainya kerusuhan menjatuhkan pemerintahan, penjarahan dan perusakan di kota jakarta begitu ramai diekspos di tivi. aku berhenti dengan tangis tersedu lalu menyendiri dalam ruang kamarku untuk meratapinya.

fancy, sejak saat itu aku tak sering  lagi berjumpa denganmu, aku mengisi waktuku dengan menjadi seorang guru TPA di sore hari dan di pagi hari bekerja sbg petugas admin di yayasan mental aritmatika dekat rumahku. lumayan dengan gaji tak seberapa, tapi setidaknya aku bisa tetap belajar, meski hanya belajar komputer otodidak dari buku  panduan yang ada disana.

setahun berlalu, tak perlu menagih janji aku tahu persis kondisi keuangan orang tuanku semakin menyempit. harapan untuk kuliah tahun ini pun sirna. sebagai seorang remaja yg masih labil saat itu yang kumampu hanya pasrah meratapi nasib dan tak tahu apa yang harus dilakukan lagi. rasanya segala upaya telah dilakukan namun takdir berkata lain. 

menemani takdir hidupku yang malang, aku menjalani sisa sia reruntuhan jiwaku ditemani seonggok radio butut, darinya aku belajar banyak hal dan mendengarkan alunan musik yang mampu meredakan kepedihan. suatu hari radio itu menyiarkan berita tentang kuliah gratis yang dibiayai oleh sebuah perusahaan swasta ternama. aku bangkit, mengumpulkan serpihan serpihan semangat yang telah hancur terbakar teriknya takdir. tak pernah melupakan sahabat senasibku, aku beranjak ke rumahnya untuk mengajak, namun ternyata takdirnya lebih indah, ia telah masuk kuliah di universitas islam negeri di bandung. dan kini ia disana. 
sedikit kecewa mengapa ia tak mengabari atau mengajaku, tapi kutepis karena meski ia mengajaku orangtua ku takan mampu membiayainya.

aku mengikuti prosedur tes masuk kuliah gratis yang saat itu ada sekitar 12 tes terdiri dari psikotes, matematika dasar, inggris dasar dan pengetahun umum. dan aku diterima. mulailah aku mengais ilmu disana.
aku semakin jarang bertemu dengannya mengingat kesibukan kita masing masing yang terpisah jarak dan waktu.

kami menjalani kehidupan masing masing yang berbeda, sudah banyak hal tentangnya yang terlewat olehku. 
lulus kuliah aku diterima bekerja di perusahaan yang mensponsori tempat kuliah dan aku menjalani aktifitas ini dengan sebaik baiknya. 

setelah sekian lama tak ada kabarnya, suatu hari ponsel butut pertamaku berdering, fancy di ujung line telpon, aku bahagia sekali setelah sekian lama ia tak menghubungiku, aku berharap ia merindukanku.. ternyata salah, ia bilang ia sedang dalam masalah dan membutuhkanku untuk meminjamkan uang sebesar 800 ribu. uang yang cukup besar untuku saat itu, mengingat gajiku saja cuma sebesar 500 ribu. aku belum menjadi sekretaris saat itu, hanya seorang asisten dari sekretaris. dan gaji itu baru cukup untuk ongkos dan keperluan primer hidupku. aku tak mampu membantunya kala itu. aku sedih... 

entah marah karena aku tak bantu atau gimana, sejak saat itu ia semakin tak pernah menghubungiku. ia tak punya kegiatan seharusnya lebih punya banyak waktu untuk mengunjungiku, tapi itu tidak lagi pernah dilakukannya. 

suatu hari aku menyempatkan diri ke rumahnya dan menginap untuk mencairkan kembali kefakuman komunikasi diantara kita. saat itu aku kaget ketika menemuinya tidak lagi berjilbab. ia membiarkan rambutnya terurai bebas, baju pendek dan bercelana pendek di luar rumah.  hmm apa yang terjadi?? aku tertinggal banyak info tentang kisahnya. ia menjelaskanku apa yang terjadi pada hidupnya, kekerasan, kepedihan dan gelombang gelombang dahsyat hidupnya belum juga berakhir. dan semua itu membuatnya depresi, sepertinya kecewa pada tuhan yang menuliskan garis hidup itu di kedua telapak tangannya. ia bergaul dengan bebasnya, dengan orang orang yg tak layak digauli. ia menceritakan kehancuran dirinya, ia terlalu jauh melangkah, aku tak bisa menceritakan detailnya disini.

hatiku hancur, aku menyesal sejadi jadinya, mengapa aku hanya menunggu kehadirannya selalu, tidak memaksakan diri untuk mendatanginya mencari tahu apa yang terjadi pada dirinya. awalnya aku berfikir ia melupakanku karena telah mendapatkan impiannya, impian kita sebetulnya. tapi ternyata aku baru tahu kalau sekarang ia tak lagi kuliah, kuliah itu sudah lama ia tinggalkan karena faktor biaya, ia tak tau lagi kemana harus mengupayakannya..tapi ternyata aku salah, aku menyalahkan diriku sendiri mengapa tak ada saat ia membutuhkanku, sehingga aku tak mampu memberinya semangat untuk tetap istiqomah. tapi kini sudah terlambat, yang kumampu hanya sedikit memberikan masukan, berharap dan berdoa agar ia kembali... aku ingin sekali selalu berada di sisinya saat ini, agar bisa memantau perkembangan hidupnya tapi aku tidak bisa... aku harus menjalani aktifitasku demi banyak hal. kini ia telah dewasa aku berharap ia dapat menyelesaikan sendiri masalah hidupnya.

aku pulang, dan kembali ia tak memberiku kabar, padahal aku sudah memintanya untuk selalu keep in touch.  

berlanjut tak pernah lagi ada kabar, hingga saat aku memutuskan untuk menikah, aku berharap sekali ia hadir menyaksikan prosesi sakral pernikahanku. aku sendiri mengantarkan undangan itu ke rumahnya, memastikan undangan itu sampai di tangannya, tapi ia tidak di rumah, aku menitipkannya pada ibunya. aku menitipkan uang untuk ongkos nanti, aku tak mau ia tidak bisa hadir karena alasan ongkos.

tapi di hari bahagiaku itu, harapanku punah, sosoknya tak sedikitpun aku temukan, padahal dibanding beribu tamu yang hadir, dia lah orang yang paling aku nantikan. aku ingin ia menyaksikan kebahagiaanku ini.. tapi ia tak ada... 

aku sedikit kecewa, mengapa ia tak mau mengusahakan apapun agar bisa hadir di hari pernikahan sahabatnya. tapi aku berusaha memahami bahwa ia pasti punya alasan sendiri untuk melakukan itu.
aku masih menunggunya, menunggu kabarnya, dan menunggu alasan ketidak hadirannya itu. tapi tak kunjung tiba... 
ia tak pernah lagi menghubungiku, beberapa kali aku ke rumahnya selalu tak ada. pesanku pada keluarganya untuk menghubungiki seolah diabaikannya, ia tak pernah mencariku.

waktu berlalu, kami hidup dengan kehidupan kita masing masing, banyak hal tentangku yang telah ia lewatkan, begitu juga aku.... 
aku masih selalu menunggunya, menunggu seorang sahabat merindukan sahabatnya, tahun tahun berganti tanpa menunggu, setelah sekiaaannnnnnnnnnnnnnn lamaaaaa, tiba2 telpon di meja kerjaku berdering, dari loby operator, katanya seorang wanita bernama fancy dan seorang pria menungguku disana.

aku datang dengan riang, berharap mendapat pelukan rindu dan kejutan sayang dari orang yang selama ini aku harap. benar ia yang menungguku di lobi itu bersama kekasihnya. tapi tidak datang bersama sekarung rindu yang kunanti. ia datang, mengingatku hanya karena ia membutuhkan bantuanku meminjam uang sebesar 500 ribu rupiah. 
aku sedih, mengapa ia hanya datang, hanya mengingatku ketika membutuhkanku. kenapa ia tak pernah lagi ada disaat aku membutuhkannya untuk sekedar berbagi. berbagi kisah tentang hidupku. 
aku kehilangannya... kehilangan ia yang telah sekian lama menjadi bagian penting dari hidupku. ia telah berubah! berubah menjadi sesosok makhluk lain yang tidak kukenali.. 
aku hanya membawa uang 200 ribu di saku bajuku saat itu dan itu kuberikan padanya... 
aku berharap ia berubah dan ada komunikasi lain setelah ini selain mau meminjam uang.
tapi itu tidak pernah terjadi.... 
entah ia marah karena aku tidak dapat mengusahakan pinjaman uang untuknya atau kenapa... 
tapi sejak saat itu ia tak pernah lagi menghubungiku, 
padahal, aku menemukan account fesbuknya, menambahkannya ke daftar teman, ia meng'aprove' permintaan pertemananku, tapi tetap tanpa sepatah kata pun... 

setelah semua yang telah ia perlakukan padaku, aku tak bisa memulai duluan mengirimkan sepatah kata lewat inbox , wall atau pun komentar pada statusnya. aku berharap sekali saja ia duluan menuliskan sekata saja komentar pada status2ku yang pasti ia ketahui. dan aku akan melanjutkan kembali persahabatan ini.. 
tapi ia tidak pernah melakukannya... ia telah melupakanku....menghapus namaku dari kisah hidupnya... 

maaf kan aku...  tapi aku berharap kau tahu bahwa hingga detik ini aku masih bertanya tanya mengapa kau memperlakukan aku seperti itu..  terima kasih atas persahabatan indah yang pernah terjalin. aku tetap berdoa smoga setelah menjauh dariku hidupmu kini bahagia

terakhir,.............
sebuah lagudari abang iwan fals ini kupersembahkan untukmu:

belum ada judul
pernah kita sama sama susah
Terperangkap didingin malam
Terjerumus dalam lubang jalanan
Digilas kaki sang waktu yang sombong
Terjerat mimpi yang indah lelap

Pernah kita sama-sama rasakan
Panasnya mentari hanguskan hati
Sampai saat kita nyaris tak percaya
Bahwa roda nasib memang berputar
Sahabat masing ingatkah kau

Reff:
Sementara hari terus berganti
Engkau pergi dengan dendam membara di hati

Cukup lama aku jalan sendiri
Tanpa teman yang sanggup mengerti
Hingga saat kita jumpa hari ini
Tajamnya matamu tikam jiwaku
Kau tampar bangkitkan aku sobat

Sementara hari terus berganti
Engkau pergi dengan dendam membara di hati
READ MORE - sahabat yang hilang