Wednesday, 2 February 2011

Senyuman 'Emak'

"Tan, tan, maaf ema bangunin tante lagi tidur, lagi sakit apa tan? ko pagi pagi tidur?"

Sayup sayup terdengar suara emak pembantu rumah tetangga  di samping tempat tidurku beberapa waktu lalu, mengembalikan nyawaku yang lagi melayang layang beterbangan kesana kemari di alam mimpi, kembali ke jasadku yang tengah terbaring pulas.

Sambil mengucek mata yang baru terbuka setengah, aku menjawab:

"ah engga ma' semalam azka sakit muntah muntah, semalaman ga bisa tidur,  sekarang ngantuk banget jadi tidur dulu lah bentar sebelom beres2 rumah, ada apa ma, tumben?" tanyaku menelisik.

Maaf ya tan sekali lagi maaf ema ada perlu makanya bangunin tante, sambil membuka kancing atas bajunya lalu merogohkan tangan ke arah dadanya. dahiku mengernyit semakin penasaran akan kelanjutan ucapannya sambil menebak nebak kemungkinan yang akan terjadi. Tangannya terus merogoh seolah mencari sesuatu, ya sesuatu yang dia simpan disana, ditempat yang menurutnya paling aman khas nenek nenek kampung seusianya. 

Sejurus kemudian, terlihat kilauan dari dua buah benda berharga di telapak tangannya, di dalam sebuah plastik kecil terbungkus kain perca berwarna hitam. membuatku semakin penasaran akan maksud yang ditujunya.

"Gini tan, ema mau minta tolong, ini ema ada cincin sama gelang emas, simpenan ema segini gininya dari jaman muda dulu, mau dijual sayang takut kaga kebeli lagi, tapi ema ada perlu, ema mau pinjem uang tante, biar tante pegang dulu ini terserah tante mau pegang yang cincin apa yang gelang". 

Hiks, gaya bahasa khas sekali, khas nenek nenek keturunan asli daerah cileungsi yang berpadu antara betawi dan sunda. Intonasinya lembut, juga lemah seolah berharap sekali keinginannya bisa terwujud.

Hatiku semakin bertanya tanya, bak sedang menonton kisah cinta dramatis, menanti adegan selanjutnya apakah happy ending atau sad ending. tak sabar menanti ujung harapan yang diucapkannya terlalu bertele tele, wajarlah ia pasti tidak tahu kalau aku adalah orang yang sukanya strict to the point dan pastinya dia juga ingin aku mengerti dulu alasan atas apa yang ia lakukan. Ia sudah biasa meminjam uang kepadaku, malah hampir setiap bulan setiap beberapa hari sebelum gajiannya dari upah menjadi pembantu rumah tangga keluar, tapi kenapa tumben sekali kali ini pinjamnya segala pake bawa bawa perhiasan segala, fikirku.

"Ini tante pegang aja dulu, soalnya ema kan sekarang mah minjemnya banyak, (huft, jantungku berdegup ketika ia sampai pada kata ini) biasanya kan 20 rebu apa 50 rebu, sekarang mah banyak tan makanya ema bawa ini, nanti ema ambil lagi kalo udah bisa bayar.. sodara ema mau hajatan tapi ga punya duit, dia minta ema nolongin dia beliin gula, nanti diganti kalo udah hajatan. ema kesian pengen banget bantuin dia tapi ga punya duit makanya ema minjem dulu ke tante". 

Waduh, batinku perih, kenapa orang orang membutuhkan bantuanku di waktu bersamaan? seketika aku jadi teringat uangku yang sedang dipinjam beberapa orang, belum kembali. uang cash di tangan juga semakin menipis, belom lagi beberapa kebutuhan hidup sudah habis belum dibeli. mana si ema bilang butuhnya banyak lagi, segala pake jaminan begitu bisa jadi 500 ribu ato sejuta ato lebih nih kayaknya, taksirku sekenanya. 

Aku paling tak tega jika berhadapan dengan orang seperti ini, nenek nenek, pembantu, orang susah lagi. Rasanya gak sanggup melihatnya kecewa selepas keluar dari rumah ini tanpa mendapatkan sesuatu yang ia harapkan. Tapi bagaimana ya caranya menyampaikan ketidakmampuanku ini. Aduh... tiba tiba saja mulutku jadi sulit berucap bak seorang gagu yang ingin sekali menyampaikan sesuatu tapi tidak bisa. emaaaaa maafkan akuu.... ,

"ema emang butuhnya berapa?"
 
Mengumpulkan keberanian dan rasa tega dalam jiwa, mencoba bertanya sambil mengulur waktu untuk memberi kesempatan pada otak mencari dan merangkai kata kata yang pas untuk disampaikan. Tiba tiba saja aku jadi seolah berada pada posisi spongesbob kartun kesayangan anaku pada episode mengobrak abrik isi lemari arsip di otaknya mencari siapa namanya. Otaku sibuk sekali mencari cari tapi tidak ketemu! 

Tapi.... sedetik kemudian tiba tiba semua kerja otak itu terhenti bak sebuah permainan gamehouse yang sedang di pause. saat terdengar jawaban dari si ema:

"Banyak neng, seratus ribu...!"

Semua karyawan di dalam kantor otakku yang tadi ramai, sibuk bekerja tiba tiba saja menjadi sepi, lemah, terjatuh dari berdirinya masih memegang berkas yang sedang dicarinya. Matanya semua terbelalak, mulutnya ternganga tanpa sadar, lalu menutupnya sambil menggelengkan kepala masing masing.

"Simpan saja ma gelang dan cincinnya, ditaro disaya malah nanti ilang". 

Serayaku sambil menyodorkan selembar uang berwarna kemerahan yang ia harap. 

Ema tersenyum simpul, bahagia sekali, senyum yang manis meski pipi lesungnya sudah keriput dimakan usia dan meski giginya ompong tinggal separuh ...   Disusul rasa terima kasihnya yang tak henti henti terucap...

Aku juga tersenyum, senyum kelegaan dan bahagia karena dapat menolongnya.

***

Kadang kita menyepelekan sejumlah uang yang kita miliki, tapi di luar sana, banyak sekali orang menganggap itu saangat berharga dan sulit sekali untuk mendapatkannya. Mari kita saling berbagi dan saling membantu agar kesenjangan  tidak terjadi.


9 comments:

  1. "Kadang kita menyepelekan sejumlah uang yang kita miliki, tapi di luar sana, banyak sekali orang menganggap itu saangat berharga dan sulit sekali untuk mendapatkannya. Mari kita saling berbagi dan saling membantu agar kesenjangan tidak terjadi."

    Note yang menggugah hati, mengingat..mengingat..
    betulll..betulll.. teramat sangat setuju pokona mah..

    ReplyDelete
  2. zahra juga jadi senyum sehabis bacanya.. hehee :)

    ReplyDelete
  3. Budiman As'ady3 February 2011 at 01:00

    Emang itu mah potonya? ^^
    *Barokallahufik, moga Allah membalas tiap kebaikan yg diniatkan karena ikhlas, amin...

    ReplyDelete
  4. @ all, tks yaa
    @ budiman,amiiin. hee futunya mah punya mbah gugle, ga kpikiran moto si emak waktu kejadiannya mah..

    ReplyDelete
  5. hmm...postingan yang menyentuh sekligus menyentil rasa humanisme mbak...kadang2 kita waktu hendak membantu orang masih banyak perhitungan berapa yang harus kita keluarkan, padahal apa yang dikasih Alloh sama hambaNya ga terhitung ya...
    thanx for sharing :)

    ReplyDelete
  6. belajar bersyukur dari emak...

    makasih noer kisahnya! :)

    ReplyDelete
  7. cuma bisa tersenyum setelah baca, inget masa lalu jadinya.... :D

    ReplyDelete
  8. WOW.
    o_o
    bener-bener menyentuh. salam ya buat ema.

    ReplyDelete

tinggalkan jejaknya ya, kalo sudah mampir: